REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Hanif Rahadian, menilai masuknya jet tempur Rafale ke jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI menandai semakin dalamnya hubungan strategis Indonesia dan Prancis di sektor pertahanan.
Menurut Hanif, pengadaan Rafale tidak hanya mencerminkan kerja sama militer biasa, tetapi juga menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan Prancis terhadap Indonesia dalam bidang teknologi dan pertahanan.
“Transaksi persenjataan seperti ini hanya akan terjadi di antara dua negara yang harmonis dan telah banyak menjalankan kerja sama,” kata Hanif di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Hubungan Indonesia dan Prancis berkembang signifikan terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan. Kedekatan diplomatik itu dinilai memberi keuntungan strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar pembelian jet tempur modern.
Salah satu keuntungan paling penting adalah peluang transfer teknologi serta pelibatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri dalam pengembangan dan pemeliharaan Rafale. Tidak semua negara pembeli memperoleh kesempatan tersebut. India, misalnya, sebagai salah satu pembeli terbesar Rafale yang sangat antusias terhadap jet tempur itu, sempat diberitakan tidak mendapatkan akses penuh terhadap source code maupun teknologi sensitif Rafale.
Arti Strategis Besar
Bagi Indonesia, transfer teknologi ini memiliki arti strategis besar karena membuka jalan menuju penguasaan teknologi pertahanan modern yang selama ini didominasi negara-negara besar. Melalui kerja sama dengan Dassault Aviation dan industri pertahanan Prancis, Indonesia berkesempatan mempelajari berbagai aspek penting teknologi penerbangan militer, sebagai berikut:
1. Sistem Avionik
Avionik merupakan “otak” dari sebuah jet tempur modern. Sistem ini mencakup radar, sensor, navigasi, komunikasi, komputer misi, hingga integrasi persenjataan yang menentukan kemampuan pesawat dalam mendeteksi ancaman, mengunci target, serta menjalankan operasi tempur secara presisi. Dengan mempelajari teknologi avionik Rafale, Indonesia tidak hanya membeli pesawat, tetapi juga memperoleh kesempatan memahami cara kerja sistem peperangan udara modern yang selama ini dikuasai negara-negara maju.
Dalam jangka panjang, penguasaan teknologi avionik dapat membantu Indonesia membangun kemampuan pengembangan, pemeliharaan, dan integrasi sistem tempur secara lebih mandiri. Hal ini penting karena dalam banyak kasus, negara pembeli alutsista sering kali bergantung penuh kepada produsen asing untuk upgrade software, perbaikan sistem elektronik, hingga integrasi rudal dan sensor baru.
Jika kemampuan tersebut mulai dikuasai SDM dan industri pertahanan nasional, maka posisi tawar Indonesia dalam bidang pertahanan akan meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan strategis terhadap negara pemasok senjata.
2. Radar
Transfer teknologi radar dari Rafale memiliki arti strategis besar bagi Indonesia karena radar merupakan salah satu komponen paling vital dalam peperangan udara modern. Radar pada jet tempur tidak hanya berfungsi mendeteksi pesawat musuh, tetapi juga menentukan kemampuan pesawat membaca situasi tempur, melacak banyak target sekaligus, hingga mengarahkan rudal dengan akurasi tinggi.
sumber : Antara

3 hours ago
3
















































