Anak Muda Makin Rentan Sindrom Metabolik Akibat Pola Hidup

7 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Sindrom metabolik kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, bahkan di bawah 30 tahun. Kondisi yang ditandai dengan kombinasi obesitas, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tidak normal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, hingga gangguan kardiovaskular jika tidak ditangani sejak dini.

Pakar penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes Prof. dr. Sidartawan Soegondo mengatakan, sindrom metabolik bukan merupakan penyakit, melainkan kumpulan faktor risiko yang dapat memicu berbagai komplikasi serius.

"Sindrom metabolik ini adalah sindrom bukan penyakit, beberapa gejala yang nanti dapat menyebabkan komplikasi jantung, diabetes dan kardiovaskular. Gula darah naik, kolesterol tinggi dan berat badan naik," kata Sidartawan di sela Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia 2026 di Bandung, Sabtu (27/6).

Menurut Sidartawan, sindrom metabolik umumnya dipengaruhi pola hidup tidak sehat apabila tidak disebabkan faktor genetik.

"Makanan bebas, jarang bergerak. Akibatnya over eating (makan berlebihan), ultra process food, makan tidak teratur," ujarnya.

Ia menilai generasi milenial dan Generasi Z kini semakin rentan karena minim aktivitas fisik dan memiliki pola makan berlebihan.

Sidartawan mengungkapkan, dalam empat bulan terakhir ia menangani pasien berusia sekitar 30 tahun yang telah menjalani pemasangan ring jantung.

"Empat bulan terakhir ada pasien kurang lebih usia 30 tahun pasang ring, dulu 40 tahun ke atas. Mereka over eating dan berat badan gak ramping, lingkar pinggang gede, buncit," katanya.

Karena itu, Sidartawan mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola makan dan menghindari konsumsi makanan secara berlebihan.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyoroti masih rendahnya pencapaian target kadar low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) atau kolesterol jahat pada pasien diabetes tipe 2 yang memiliki risiko tinggi penyakit kardiovaskular.

Menurut dia, strategi terapi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pasien agar target penurunan kadar LDL-C di bawah 55 mg/dL dapat tercapai.

"Untuk meningkatkan tingkat pencapaian target LDL-C yang saat ini masih rendah pada pasien berisiko tinggi, strategi terapi perlu disesuaikan dan dioptimalkan berdasarkan profil risiko kardiovaskular masing-masing pasien," kata Sidartawan.

Sementara itu, perwakilan Daewoong Pharmaceutical Indonesia dr. Wicak Prasetiadi mengatakan, kombinasi obat ezetimibe dan rosuvastatin diharapkan dapat membantu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus mempercepat pencapaian target penurunan kolesterol jahat.

"Pengobatan lebih dari satu diharapkan membantu pasien mencapai target penurunan LDL," ujar Wicak.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |