Analis Turki, Rusia, dan Arab: Rahasia di Balik Perang Rudal yang Malah Mempercepat Kemunduran Barat

6 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Forum Boao untuk Asia yang berlangsung di Tiongkok, para ekonom sedang mempresentasikan angka-angka yang menggembirakan: ekonomi Asia diproyeksikan tumbuh 4,5 persen pada 2026, menyumbang hampir 50 persen dari produk domestik bruto global.

Pada saat yang sama, di langit antara Iran dan Israel, ratusan rudal balistik sedang melukis lintasan kehancuran yang, tanpa disadari banyak pihak, sedang membentuk ulang peta kekuatan dunia jauh melampaui kawasan yang terbakar itu.

Dua realitas yang tampak tidak berhubungan itu, sesungguhnya, adalah bagian dari satu narasi besar yang sedang berlangsung: tentang tatanan dunia yang sedang berganti kulit, dan tentang siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari pergantian yang menyakitkan itu.

Tiga analis dari tiga sudut pandang yang berbeda menawarkan peta pembacaan yang, ketika diletakkan berdampingan, membentuk gambaran yang lebih utuh dari yang bisa diberikan oleh satu sudut pandang mana pun.

Asia Tumbuh di Tengah Api yang Dinyalakan Barat

Dmitry Kosyrev, kolumnis Ria Novosti, membuka analisanya dengan sebuah kontradiksi yang ia temukan dalam dua publikasi yang terbit hampir bersamaan. The New York Times melaporkan kengerian di Asia akibat perang di Timur Tengah: hingga 40 persen SPBU tutup di Laos, kekurangan gas alam cair di Nepal, hari libur darurat diumumkan di Sri Lanka, dan protes mulai bergolak di Filipina dan Thailand.

Sementara laporan Forum Boao untuk Asia, yang disusun oleh sekelompok ahli internasional, justru menggambarkan Asia sebagai kawasan yang sedang dalam lintasan kebangkitan yang tidak terbendung.

Kosyrev tidak menutup mata terhadap penderitaan nyata yang dialami Asia Selatan. Namun ia menolak membaca gambaran keseluruhan dari lensa kepanikan sesaat. Baginya, yang jauh lebih signifikan adalah tren struktural yang sedang berlangsung di bawah permukaan krisis: "Kawasan ini semakin mampu berkinerja lebih baik tanpa Barat."

Pada 2023, perekonomian Asia saling bergantung sebesar 56,3 persen dalam perdagangan luar negeri. Angka itu naik menjadi 57,2 persen pada 2024, dan tren ini, menurut Kosyrev, tidak akan berubah arah.

Di sinilah analisanya menjadi paling provokatif. Ia mengajukan sebuah pertanyaan yang ia sendiri menyebutnya sebagai "teori konspirasi," namun kemudian ia menunjukkan mengapa pertanyaan itu layak diajukan: apakah guncangan minyak yang berasal dari Timur Tengah sengaja dirancang untuk menghantam Asia, khususnya China, sebagai upaya memperlambat kebangkitannya?

Jawaban Kosyrev sendiri mengandung ironi yang dalam. "Teori konspirasi selalu gagal karena terlalu logis dan rasional, hingga detail terkecil," tulisnya. "Dalam kehidupan nyata, unsur kebodohan tidak dapat dihindari: misalnya, mereka salah menilai perlawanan Iran, baik militer maupun sipil. Mereka melebih-lebihkan kemampuan militer mereka sendiri, memicu krisis domestik yang parah di Amerika Serikat."

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |