Aplikasi Kencan Tak Lagi Sekadar untuk Mencari Jodoh

4 hours ago 1

BAGI sebagian orang, aplikasi kencan kini bukan semata ruang mencari pasangan. Ia menjadi tempat bertemu orang baru, memperluas jaringan, bahkan membantu proses mengenal diri sendiri. Hal itu dialami oleh penulis buku Swipe Therapy, Mira Sumanti.

Lima minggu sebelum hari pernikahannya digelar di Bali pada 2016, Mira Sumanti menerima kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Tunangannya memutuskan mengakhiri hubungan setelah keduanya menjalani hubungan selama tiga setengah tahun. Semua persiapan pernikahan telah rampung. Undangan telah disebar. Vila telah dibayar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di tengah rasa kehilangan itu, perempuan yang saat itu bekerja di Google Indonesia justru mengunduh Tinder. Bukan untuk mencari pengganti calon suami. "Bahkan aku sendiri nggak tahu waktu itu kenapa aku masuk Tinder. Kayaknya cuma butuh distraksi. Aku belum siap punya hubungan baru, tapi aku butuh ngobrol dengan orang yang enggak tahu masa laluku," kata Mira kepada Tempo pada akhir Mei 2026.

Keputusan yang semula hanya menjadi pelarian itu perlahan mengubah cara pandangnya terhadap aplikasi kencan.

Selama hampir empat tahun, Mira bertemu dengan berbagai orang melalui Tinder, kemudian Bumble dan Hinge. Tidak semua pertemuan berujung hubungan asmara. Sebagian hanya berlangsung sekali. Sebagian lagi hanya menjadi teman berbincang. Namun, hampir semuanya meninggalkan pelajaran yang kemudian ia tuangkan dalam buku Swipe Therapy. "Aku merasa dating app itu nggak selalu tentang finding the one. Kadang justru tentang menemukan orang-orang yang membantu kita menemukan diri kita sendiri," katanya.

Menurut Mira, banyak orang yang ditemuinya hanya hadir sebentar, tetapi memberi perspektif baru dalam hidupnya. "Ada yang cuma lewat sebentar, tapi mereka meninggalkan wisdom yang membantu healing journey aku," kata Mira.

Pengalaman Mira mencerminkan perubahan cara generasi muda memandang aplikasi kencan. Lembaga riset Populix dalam surveinya mengenai perilaku pengguna aplikasi kencan di Indonesia menemukan bahwa alasan menggunakan dating apps tidak lagi semata mencari pasangan hidup. Menurut populix.co, 56 persen koresponden mengaku menggunakan aplikasi kencan untuk mencari teman bicara. Sekitar 48 persen lainnya karena hanya ingin mencoba, dan 46 persen lainnya hanya untuk bersenang-senang. 

Fenomena serupa juga terlihat secara global. Sejumlah riset juga menunjukkan fungsi aplikasi kencan mulai bergeser. Laporan The Future of Dating 2026 dari The Future Laboratory menyebut sebagian pengguna memanfaatkan platform seperti Bumble dan Tinder tidak hanya untuk mencari pasangan romantis, tetapi juga memperluas jejaring sosial maupun profesional. Banyak pengguna mengaku lebih mengutamakan percakapan yang bermakna dan koneksi emosional dibanding mengejar hubungan yang berlangsung cepat.

Namun, di balik kemudahan itu muncul fenomena baru yang disebut dating app fatigue. Terlalu banyak pilihan membuat sebagian pengguna justru kesulitan mengambil keputusan.

Mira melihat kondisi itu sebagai konsekuensi dari desain aplikasi. "Dating app membuat kita merasa pilihan itu tidak terbatas. Orang jadi gampang berpikir, 'Ya sudah, swipe saja lagi. Siapa tahu ada yang lebih baik," katanya.

Ia menyebut kondisi itu sebagai bentuk decision paralysis, saat orang kesulitan mengambil keputusan karena dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, terlalu banyak informasi, atau takut membuat pilihan yang salah. Akibatnya, orang tersebut justru menunda atau bahkan tidak mengambil keputusan sama sekali. "Padahal ada istilah yang aku suka, the grass is greener where you water it. Hubungan itu berkembang kalau dirawat, bukan kalau terus mencari pilihan lain," kata Mira menambahkan.

Sebagai orang yang bekerja di industri teknologi, Mira mengaku melihat aplikasi kencan dari dua sisi. Di satu sisi, teknologi membuka kesempatan bertemu orang di luar lingkaran sosial yang sebelumnya sulit dijangkau. "Banyak orang yang akhirnya bisa bertemu pasangan atau teman baru yang mungkin nggak akan pernah mereka kenal kalau cuma mengandalkan circle yang sama," katanya.

Namun di sisi lain, mekanisme menggeser layar ke kanan dan kiri juga membuat pengguna lupa bahwa profil yang mereka lihat adalah manusia sungguhan. "Aplikasi itu bikin orang seperti kartu yang tinggal di-swipe. Padahal mereka manusia yang punya cerita, punya sejarah, pernah patah hati juga," katanya.

Karena itu, ia berusaha tidak memperlakukan orang lain secara sembarangan. "Aku selalu berusaha nggak ghosting orang. Kalau memang nggak cocok, ya bilang. Karena kita semua manusia," lanjutnya.

Pengalaman yang paling membekas justru datang dari seseorang yang bahkan tidak pernah menjadi kekasihnya.

Beberapa minggu setelah gagal menikah, Mira berkenalan dengan seorang neuroscientist (peneliti sistem saraf) asal Australia melalui Tinder. Saat mengalami serangan kecemasan akibat terus mengingat mantannya, ia mengirim pesan kepada pria itu pada pukul tiga dini hari. "Aku tanya, gimana sih caranya menghapus seseorang dari ingatan?"

Jawaban yang diterimanya mengubah cara pandangnya terhadap proses penyembuhan.

Menurut ilmuwan tersebut, memori paling mudah diubah ketika sedang dipanggil kembali. Karena itu, seseorang justru perlu menghadapi kenangan buruknya, lalu membangun pengalaman baru di atasnya.

Nasihat itulah yang membuat Mira akhirnya tetap berangkat ke Bali pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya. Alih-alih menikah, ia menggelar wedding cancellation party bersama teman-temannya. "Besok paginya aku merasa jauh lebih ringan. Mungkin karena aku akhirnya menghadapi memori itu, bukan terus menghindarinya," katanya.

Kini, setelah menikah dan memiliki seorang anak, Mira justru bertemu suaminya melalui Bumble. Ironisnya, mereka ternyata bekerja di kantor yang sama di Google Singapura, hanya saja tidak pernah saling mengenal.

Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa aplikasi kencan hanyalah alat. Yang menentukan bukan algoritmanya, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.

Ia mengaku lebih khawatir terhadap kecenderungan teknologi yang semakin menggantikan interaksi antar manusia, termasuk kemunculan AI boyfriend dan AI girlfriend. Mira mengingatkan bahwa perkembangan teknologi ini bisa mempengaruhi cara kita memandang hubungan. Jangan sampai orang menjadi kurang peka terhadap kompleksitas hubungan antarmanusia karena terbiasa berinteraksi dengan teknologi yang selalu memenuhi keinginan kita.

"Yang paling penting itu ingat bahwa orang yang kita swipe adalah manusia sungguhan. Mereka punya cerita, punya sejarah, pernah patah hati. Jangan memperlakukan mereka dengan ringan," kata Mira.

Bagi Mira, aplikasi kencan memang bisa mempertemukan dua orang yang akhirnya menikah. Namun, pengalaman empat tahun menggunakan aplikasi kencan mengajarkannya bahwa tidak semua pertemuan harus berakhir dengan cinta.

Sebagian orang hadir hanya untuk meninggalkan pelajaran. Hal itu yang justru paling dibutuhkan seseorang untuk menemukan dirinya sendiri.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |