Foto udara relawan mengevakuasi warga korban banjir menggunakan perahu karet di Perumahan Periuk Damai, Kota Tangerang, Banten, Ahad (8/3/2026). Evakuasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian serta relawan dari PMI, Pramuka dan BPBD tersebut untuk memastikan keselamatan warga terdampak banjir dengan ketinggian hingga mencapai dua meter akibat luapan Kali Sabi yang dipicu tingginya intensitas hujan pada Sabtu (7/3).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi potensi curah hujan berintensitas lebat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Senin (9/3/2026) malam, mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan juga sebagai upaya mitigasi untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Direktorat Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencacat Jakarta menjadi wilayah yang mengalami dampak banjir dan cuaca ekstrem terjadi di sejumlah wilayah. Hujan lebat yang mengguyur sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Ahad (8/3/2026) menyebabkan genangan di beberapa kawasan permukiman warga.
Merespons kejadian tersebut selain menggelar operasi modifikasi cuaca BNPB juga menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak. Bantuan yang disalurkan antara lain berupa paket sembako serta bantuan nonpangan seperti selimut dan matras untuk mendukung kebutuhan dasar warga yang terdampak banjir.
Menurut Abdul, sebanyak 23 kelurahan di tiga kecamatan terdampak banjir akibat curah hujan tinggi. Akibatnya sebanyak 122 jiwa dilaporkan mengungsi sementara waktu ke tempat yang lebih aman.
Berdasarkan pemantauan tim reaksi cepat pada Ahad (8/3/2026), kata dia, genangan air di sejumlah ruas jalan dan permukiman warga dilaporkan mulai berangsur surut namun masih berpotensi banjir susulan merespons kondisi cuaca yang masih rentan dipicu aktifnya dua sistem bibit siklon.
Sebagaimana analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) keberadaan dua bibit siklon tropis 93S dan 95W terpantau sampai dengan Senin pagi di sekitar wilayah Indonesia berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sejumlah daerah termasuk Jabodetabek.
Untuk bibit siklon tropis 93S yang berada di Samudera Hindia selatan Lampung dengan kecepatan angin maksimum sekitar 30 knot dan tekanan udara minimum 999 hPa.
BMKG mengkonfirmasi sistem tersebut memiliki potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 48 jam ke depan dan diperkirakan melemah dengan intensitas angin menurun menjadi sekitar 25 knot dalam periode 48 hingga 72 jam. Bibit siklon ini juga menginduksi terbentuknya aliran angin kencang lapisan bawah (low level jet) serta daerah konvergensi di Samudera Hindia selatan Lampung.
sumber : Antara

2 hours ago
3
















































