Earth, Wind & Fire Experience by Al McKay di Java Jazz 2026

7 hours ago 2

BAND legendaris Earth, Wind & Fire Experience by Al McKay membuka penampilannya di Java Jazz Festival 2026 dengan “Boogie Wonderland” pada Ahad malam, 31 Mei 2026. Dalam hitungan detik, ribuan penonton langsung bernyanyi dan menari bersama, mengubah konser menjadi pesta musik funk dan soul.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di Teh Botol Sosro Hall, NICE PIK 2, Tangerang, lagu yang dirilis pada 1979 itu terdengar seperti tidak pernah menua. Penonton dari berbagai generasi larut dalam irama yang telah menemani perjalanan musik dunia selama puluhan tahun.

Dipimpin gitaris legendaris Al McKay, band tersebut membawa penonton menelusuri kembali album Earth, Wind & Fire yang telah melintasi generasi. Selama lebih dari satu jam, nostalgia, energi, dan kegembiraan berbaur menjadi satu.

Sebelum lagu pertama dimainkan, salah satu personel lebih dulu menyapa penonton dengan teriakan, “Jakartaaa!” Sapaan singkat itu langsung dibalas sorak-sorai panjang.

Setelah pembukaan energik itu, konser berlanjut dengan “Serpentine Fire” dan “Got To Get You Into My Life”. Energi panggung yang konsisten membuat suasana tetap hangat. Di sejumlah sudut hall, tampak penonton bernyanyi sambil mengangkat telepon genggam mereka. Sebagian lainnya memilih menikmati konser dengan bergoyang mengikuti permainan brass section dan ritme funk yang menjadi ciri khas Earth, Wind & Fire.

Interaksi antara musisi dan penonton juga menjadi salah satu warna sepanjang pertunjukan. “Selamat malam,” sapa salah satu personel dari atas panggung.

Sapaan itu disambut tepuk tangan meriah. Tak lama kemudian, ia kembali mengundang tawa penonton dengan menyelipkan satu kata yang akrab bagi masyarakat Indonesia, “Terima kasih… nasi goreng.” Gelak tawa langsung terdengar dari berbagai penjuru hall.

Suasana akrab itu berlanjut ketika personel band menyampaikan apresiasinya kepada para penonton yang hadir malam itu, “Terima kasih banyak telah hadir. Selamat datang di keluarga kami, semuanya yang baru bergabung.”

Tak lama kemudian, mereka melempar pertanyaan sederhana, “Apakah kamu bersenang-senang?” Jawabannya datang serempak dari ribuan penonton yang memenuhi ruangan.

Memasuki “Shining Star”, suasana kembali bergairah. Penonton ikut bernyanyi pada bagian refrain yang sudah sangat dikenal. Ketika “Brazilian Rhyme” dimainkan, para personel mengajak penonton menjentikkan jari mengikuti ketukan lagu. Ribuan jemari bergerak hampir bersamaan, menambah lapisan ritme di tengah permainan musik yang rapat dan dinamis.

Malam kemudian memasuki fase yang lebih emosional. Begitu intro “After The Love Has Gone” terdengar, sorak-sorai perlahan berubah menjadi nyanyian bersama. Lagu yang dirilis pada akhir 1970-an itu menjadi salah satu nomor yang paling dinanti malam itu. Cahaya dari layar telepon genggam mulai bermunculan. Sejumlah penonton tampak menyanyikan setiap bait lagu yang mereka hafal.

Nuansa serupa berlanjut ketika “Reasons” dibawakan. Harmoni vokal yang kuat membuat suasana hall menjadi lebih intim dibandingkan deretan lagu enerjik yang dimainkan sebelumnya.

Di tengah konser, salah satu personel menyampaikan pesan yang disambut tepuk tangan panjang. “Kita memiliki kekuatan untuk mengubah dunia jika kita belajar mencintai.” Pesan itu terasa penuh makna dan mendapat respons hangat dari penonton yang malam itu datang dari berbagai generasi serta latar belakang.

Setelah membawa penonton larut dalam suasana melankolis, Earth, Wind & Fire Experience kembali menaikkan tempo pertunjukan. “In The Stone”, “Fantasy”, “Jupiter”, dan “Get Away” mengembalikan energi hall. Banyak penonton yang tetap berdiri sejak awal konser tampak tidak kehilangan semangat.

Rangkaian lagu berlanjut dengan “Sing a Song”, “Can’t Hide Love”, dan “That’s The Way of the World”. Lagu-lagu tersebut menjadi pengingat betapa besar pengaruh Earth, Wind & Fire dalam perkembangan musik funk, soul, R&B, hingga disko.

Puncak pertunjukan datang menjelang akhir. Ketika intro “September” dimainkan, seluruh hall langsung bergemuruh. Belum sampai vokalis menyanyikan bait pertama, penonton sudah lebih dulu menyanyikan lirik lagu tersebut. Dari barisan depan hingga belakang, hampir semua orang ikut bernyanyi. Ketiga penyanyi band ini pun beberapa kali mengajak penonton bernyanyi dalam pola call and response, menirukan rangkaian suku kata khas jazz dan funk yang mereka lantunkan dari atas panggung. Misalnya “la-da-di-da” dan “pa-ra-pa-pam.”

Momen itu menjadi salah satu yang paling berkesan sepanjang penampilan Earth, Wind & Fire Experience di Java Jazz Festival 2026. Konser kemudian ditutup dengan “Let’s Groove”. Lampu panggung bergerak mengikuti dentuman musik, sementara penonton terus menari hingga lagu terakhir berakhir.

Sepanjang malam, Earth, Wind & Fire Experience membawakan sedikitnya 16 lagu yang menghidupkan kembali karya-karya legendaris Earth, Wind & Fire. Namun yang tertinggal setelah para musisi meninggalkan panggung bukan hanya deretan hit yang telah berusia puluhan tahun.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |