REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai stimulus berupa penurunan PPh Final menjadi 1,5 persen serta diskon transportasi merupakan langkah positif untuk menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi jangka pendek.
“Secara umum saya mengapresiasi langkah pemerintah tersebut. Dalam situasi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, stimulus yang dapat membantu menjaga konsumsi rumah tangga memang diperlukan. Penurunan PPh Final bagi penulis juga merupakan sinyal positif bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian kepada sektor ekonomi kreatif dan profesi-profesi yang selama ini sering luput dari pembahasan kebijakan ekonomi,” ujar Fakhrul kepada di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, kebijakan diskon transportasi berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat sehingga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata, perhotelan, restoran, perdagangan ritel, hingga UMKM yang bergantung pada aktivitas perjalanan domestik.
“Ketika biaya perjalanan turun, masyarakat cenderung lebih banyak melakukan perjalanan dan membelanjakan uangnya di berbagai daerah. Ini tentu memberikan multiplier effect yang cukup baik bagi perekonomian lokal, terutama pada periode liburan sekolah dan akhir tahun,” jelasnya.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan dampak stimulus konsumsi semacam ini pada dasarnya bersifat sementara.
“Kita perlu melihat kebijakan ini secara proporsional. Dampaknya tentu ada, tetapi umumnya bersifat temporer. Setelah periode stimulus berakhir, aktivitas ekonomi biasanya akan kembali ke tren normalnya. Karena itu, kita tidak bisa mengandalkan stimulus konsumsi sebagai satu-satunya mesin pertumbuhan ekonomi,” terang dia.
Lebih lanjut, Fakhrul menegaskan ukuran keberhasilan ekonomi nasional seharusnya tidak hanya dilihat dari peningkatan konsumsi selama periode tertentu, melainkan dari kemampuan ekonomi menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
“Yang paling penting bukan sekadar berapa banyak orang yang naik kereta, pesawat, atau bus selama masa liburan. Yang lebih penting adalah apakah dunia usaha semakin percaya diri untuk berekspansi, berinvestasi, dan membuka lapangan pekerjaan baru,” kata Fakhrul.
Menurutnya, tantangan terbesar ekonomi Indonesia saat ini adalah bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Pada akhirnya masyarakat tidak menjadi sejahtera karena mendapatkan diskon tiket selama beberapa minggu. Masyarakat menjadi sejahtera karena memiliki pekerjaan yang baik, pendapatan yang meningkat, dan keyakinan bahwa masa depannya lebih baik dibanding hari ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fakhrul menambahkan stimulus konsumsi dapat menjadi pelengkap yang baik untuk menjaga momentum pertumbuhan. Namun, pemerintah tetap perlu menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai prioritas utama.
“Karena itu saya melihat stimulus ini baik dan patut diapresiasi. Namun agenda yang lebih besar tetap bagaimana menjaga iklim investasi, meningkatkan kepastian kebijakan, memperkuat sektor industri, dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah yang lebih besar,” kata Fakhrul.
“Konsumsi bisa membantu ekonomi bergerak lebih cepat, tetapi lapangan kerja adalah fondasi yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tambahnya.
sumber : Antara

2 hours ago
1

















































