Harga Minyak Dunia Tembus 111 Dolar AS per Barel, Tertinggi Sejak 2022

17 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO – Harga minyak dunia melonjak sekitar 20 persen pada awal perdagangan Senin (9/3/2026), mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan tajam terjadi karena pasar khawatir perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat akan berdampak berkelanjutan pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.

Dalam perdagangan awal, kontrak berjangka minyak Brent sempat melonjak 18,35 dolar AS atau 19,8% menjadi 111,04 dolar AS per barel, dan pada pukul 23.14 GMT tercatat naik 14,38 dolar AS atau 15,5% menjadi 107,07 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 15,27 dolar AS atau 16,8 persen menjadi 106,17 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak 20,34 dolar AS atau 22,4 persen hingga 111,24 dolar AS per barel.

Pekan lalu, sebelum lonjakan terbaru ini, harga Brent telah naik 27 persen dan WTI meningkat 35,6 persen.

Militer Israel pada Ahad dini hari menyatakan telah menyerang komandan Iran di ibu kota Lebanon, Beirut, memperluas operasi militernya ke pusat kota setelah serangkaian serangan yang menewaskan hampir 400 orang dalam beberapa hari terakhir.

Militer Israel juga mengancam akan membunuh siapa pun yang menggantikan Khamenei. Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang kemungkinan baru akan berakhir jika militer dan kepemimpinan Iran dilumpuhkan sepenuhnya.

Konflik ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan. Bahkan jika perang yang baru berlangsung sekitar sepekan itu berakhir cepat.

Pasokan energi juga terancam akibat kerusakan fasilitas, gangguan logistik, serta meningkatnya risiko bagi kapal pengangkut minyak. Sebagai eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak melalui Laut Merah.

Namun, berdasarkan data pengiriman, volume tersebut masih jauh dari cukup untuk menggantikan penurunan pasokan dari Selat Hormuz yang terdampak krisis.

sumber : Reuters

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |