REPUBLIKA.CO.ID, oleh Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra
Ada satu kebiasaan dalam membaca krisis geopolitik yang sering menipu kita: kita cenderung melihat setiap konflik sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Sebuah perang muncul di satu kawasan. Ketegangan meningkat di tempat lain. Rivalitas antara negara-negara besar semakin terasa. Lalu semua itu tampak seperti rangkaian kejadian yang tidak selalu saling berkaitan. Namun beberapa pengamat dunia melihatnya dengan cara yang berbeda. Salah satunya adalah Ray Dalio.
Dalio bukan diplomat atau analis militer. Ia dikenal sebagai investor dan pendiri Bridgewater Associates, salah satu perusahaan manajemen investasi terbesar di dunia. Namun selama lebih dari satu dekade terakhir ia menaruh perhatian besar pada sejarah kekuatan global—mencoba memahami bagaimana negara-negara besar bangkit, mencapai puncaknya, dan kemudian perlahan digantikan oleh kekuatan baru.
Yang menarik dari pendekatan Dalio adalah cara ia membaca sejarah sebagai pola yang berulang. Dalam penelitiannya tentang kekuatan besar—mulai dari Belanda pada abad ke-17, Inggris pada abad ke-19, hingga Amerika Serikat pada abad ke-20—Dalio menemukan bahwa setiap tatanan global biasanya melewati siklus yang hampir serupa.
Sebuah negara atau kekaisaran bangkit melalui kombinasi inovasi, perdagangan, dan kekuatan ekonomi. Pada fase itu, negara tersebut membangun jaringan perdagangan global, menguasai jalur ekonomi penting dunia, dan menciptakan mata uang yang dipercaya secara internasional.
Pada masa puncaknya, kekuatan seperti ini sering terlihat hampir tak tergoyahkan. Namun sejarah menunjukkan bahwa justru pada titik itulah benih perubahan mulai muncul.
Utang negara meningkat. Kesenjangan sosial di dalam negeri melebar. Sementara itu, kekuatan baru di luar perlahan tumbuh dan mulai menantang dominasi lama.
Dalio sering menyebut tiga tanda utama bahwa sebuah tatanan global sedang memasuki fase perubahan: utang yang sangat tinggi, konflik politik internal yang meningkat, dan munculnya pesaing geopolitik yang kuat.
Jika kita melihat dunia hari ini, sulit rasanya mengabaikan bahwa ketiga gejala itu hadir secara bersamaan. Utang global berada pada tingkat yang sangat tinggi. Polarisasi politik di banyak negara meningkat tajam. Dan persaingan antara kekuatan besar—terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok—semakin terasa dalam berbagai bidang. Dari perdagangan hingga teknologi, dari jalur laut hingga ruang siber.
Dalam konteks seperti inilah Selat Hormuz menjadi jauh lebih penting daripada sekadar jalur pelayaran minyak. Selat itu adalah salah satu titik di mana ekonomi global dan kekuatan geopolitik bertemu secara langsung.
Hampir seperlima minyak dunia melewati jalur air sempit itu setiap hari. Negara-negara Teluk mengekspor energinya melalui selat tersebut. Negara-negara industri di Asia bergantung pada pasokan yang melintas di sana.
Selama beberapa dekade terakhir, stabilitas jalur ini menjadi bagian dari sistem keamanan global yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Namun ketika kita melihat ketegangan yang muncul di kawasan itu hari ini—ancaman terhadap kapal tanker, manuver militer, hingga rivalitas diplomatik—kita mulai melihat bahwa stabilitas tersebut tidak lagi sepenuhnya dianggap pasti.
Di sinilah kerangka berpikir Dalio terasa relevan. Dalam periode ketika tatanan global mulai bergeser, titik-titik strategis seperti jalur perdagangan energi sering berubah menjadi arena tempat kekuatan lama dan kekuatan baru saling menguji pengaruhnya.
Selat Hormuz adalah salah satu titik itu.
Bagi Tiongkok, stabilitas jalur ini berkaitan langsung dengan keamanan energi yang menopang ekonominya. Bagi Rusia, kawasan Timur Tengah merupakan bagian dari keseimbangan geopolitik Eurasia yang lebih luas. Bagi Amerika Serikat sendiri, menjaga kebebasan navigasi di jalur ini adalah bagian dari sistem global yang telah dibangunnya sejak akhir Perang Dunia Kedua.
Ketika berbagai kepentingan besar bertemu di satu ruang sempit seperti itu, ketegangan hampir tidak terhindarkan. Namun perubahan besar dalam sejarah jarang terjadi melalui satu peristiwa dramatis. Ia biasanya muncul melalui serangkaian krisis yang tampak terpisah, tetapi sebenarnya saling berkaitan.
Gangguan terhadap jalur energi. Persaingan ekonomi antarnegara. Konflik regional yang perlahan menarik perhatian kekuatan besar. Semua ini dapat menjadi tanda bahwa dunia sedang bergerak menuju fase baru dalam siklus sejarahnya.
Selat Hormuz, dalam banyak hal, hanyalah satu titik kecil dalam peta dunia. Namun seperti sering terjadi dalam sejarah, titik-titik kecil itulah yang kadang memperlihatkan arah perubahan yang lebih besar.
Di jalur air sempit itu, kapal-kapal tanker membawa energi bagi ekonomi global. Tetapi bersama mereka, bergerak pula sesuatu yang lebih sulit dilihat namun tidak kalah penting: perubahan perlahan dalam keseimbangan kekuatan dunia.

1 hour ago
1
















































