REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tekanan global untuk menurunkan emisi karbon mulai mendorong transformasi sektor baja nasional yang selama ini dikenal sebagai industri intensif energi. Pelaku industri, akademisi, dan pembuat kebijakan kini mencari jalur transisi yang realistis agar agenda dekarbonisasi tetap berjalan tanpa mengganggu daya saing bisnis.
Program Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 digelar sebagai ruang pembelajaran eksekutif untuk membahas strategi menuju ekosistem industri baja rendah karbon di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung selama tiga bulan ini ditutup melalui grand final gathering yang menghadirkan diskusi teknologi, kebijakan, investasi, hingga implementasi industri hijau.
Sebanyak 74 peserta eksekutif mengikuti program secara selektif, terdiri dari sekitar 7 persen top management dan 15 persen senior leaders dari sektor baja dan energi. Para peserta menjalani empat modul non-degree serta forum diskusi strategis bersama akademisi, pelaku industri, dan regulator.
Kepala CPPM SBM ITB Yudo Anggoro mengatakan, edukasi menjadi faktor penting untuk mempercepat kesiapan ekosistem industri baja rendah karbon di Indonesia.
“Tidak banyak yang benar-benar memahami kompleksitas industri ini. Karena itu, edukasi melalui program seperti ini menjadi penting untuk membangun kesiapan ekosistem baja rendah karbon di Indonesia,” ujarnya berdasarkan siaran pers, Kamis (7/5/2026).
Dalam pemaparan akademik, dosen Teknik Metalurgi ITB Zulfiadi Zulhan menjelaskan bahwa industri baja global berada di bawah tekanan besar untuk menurunkan emisi seiring komitmen internasional menuju target net zero emission pasca Paris Agreement.
Industri baja menghasilkan rata-rata sekitar 2,4 ton CO2 untuk setiap ton crude steel yang diproduksi, menjadikannya sektor prioritas dalam agenda dekarbonisasi global.
Menurut Zulfiadi, jalur transisi paling realistis saat ini adalah peralihan bertahap dari natural gas-based DRI + EAF menuju hydrogen-based DRI + EAF. Namun, teknologi berbasis hidrogen penuh masih menghadapi tantangan biaya energi yang tinggi.
“Implementasi teknologi berbasis hidrogen penuh saat ini belum kompetitif secara ekonomi. Tantangan utama masih terletak pada biaya energi, terutama penggunaan gas alam yang relatif mahal,” ungkapnya.
Zulfiadi menilai ekosistem inovasi nasional masih menghadapi keterbatasan pertukaran informasi dan kecepatan pengembangan teknologi, sehingga proses inovasi berjalan lebih lambat dibandingkan negara lain.
Dari sisi industri, Chief Operating Officer PT Krakatau Steel Tbk Sidik Darusulistyo menyoroti dilema sektor baja dalam menjaga keseimbangan antara target dekarbonisasi dan keberlanjutan bisnis.
Ia menjelaskan bahwa industri baja menopang banyak sektor ekonomi nasional, namun beroperasi dengan margin keuntungan yang relatif tipis sehingga efisiensi operasional menjadi faktor penentu.
Saat ini perusahaan berfokus mempercepat cash conversion cycle, merampingkan proses bisnis, serta memperkuat rantai pasok domestik untuk menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya produksi dan volatilitas energi global.
Sidik juga menekankan pendekatan market-driven production yang mengandalkan ketepatan siklus produksi dan pengiriman untuk mengurangi kebutuhan inventori, meski implementasinya masih menghadapi tantangan di lapangan. Digitalisasi serta pemanfaatan kecerdasan buatan dinilai menjadi akselerator penting dalam transformasi industri baja.
Program Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 ditutup dengan pemberian penghargaan kepada peserta, termasuk kategori Best Learning Participant dan Best Essay. Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk mempercepat pengembangan industri baja rendah karbon di Indonesia.

1 hour ago
1















































