Kursi roda (ilustrasi). Pada kasus jatuh dari ketinggian korban secara klinis harus diasumsikan berisiko mengalami cedera serius, termasuk cedera tulang belakang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Adik musisi Keisya Levronka, Lexi Valleno Havlenda, masih menjalani sejumlah perawatan dan terapi seusai jatuh dari lantai 6 kampus Universitas Tarumanegara saat mengikuti kegiatan wall climbing. Menurut keterangan sang ibu, Levi Havron, cedera sang anak kemungkinan diperparah oleh penanganan awal pascakecelakaan yang tidak sesuai prosedur.
Lexi yang jatuh pada 2024 disebut sempat dibopong, didudukkan di kursi roda, lalu dibawa ke rumah sakit menggunakan taksi, bukan ambulans. Lantas seperti apa penanganan pertama yang tepat bagi korban jatuh dari ketinggian?
Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) dr Putro S Muhammad mengatakan pada kasus jatuh dari ketinggian korban secara klinis harus diasumsikan berisiko mengalami cedera serius, termasuk cedera tulang belakang. Oleh karena itu, penanganan pertama yang tepat menjadi faktor krusial dalam menentukan keselamatan korban.
Menurut dr Putro, prinsip utama penanganan awal pada kasus jatuh dari ketinggian adalah menjaga korban tetap stabil, membatasi pergerakan, dan segera melakukan evakuasi melalui layanan medis darurat menggunakan ambulans. Upaya memindahkan korban tanpa pengetahuan yang memadai sebaiknya dihindari, karena berpotensi memperburuk kondisi cedera.
"Jadi penanganan yang dianjurkan adalah menjaga korban tetap stabil dan melakukan evakuasi melalui layanan medis darurat dengan ambulans," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Senin (2/2/2026).
Menurut dr Putro, insiden ini juga menjadi pengingat bahwa dalam situasi gawat darurat, masyarakat awam sering kali menjadi pihak pertama yang memberikan respons. Oleh karena itu, kesiapsiagaan publik memegang peranan besar dalam menentukan keselamatan korban sebelum bantuan medis profesional tiba.

1 day ago
4
















































