REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah hilir mudik hiruk-pikuk Jakarta, seorang mahasiswi muda melangkah mantap menyusuri lorong kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Slipi, yang ada di Jakarta Barat. Wajahnya yang cerah, menyimpan energi besar untuk seorang anak muda yang tak pernah bisa berdiam diri.
Nama mahasiswi itu adalah Peggy Lalita. Di usianya yang kini menginjak semester tiga pada Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Peggy menjadi contoh generasi muda yang pandai menyeimbangkan mimpi, pendidikan, dan realitas hidup.
Bagi banyak mahasiswa, membagi waktu antara bangku kuliah dan dunia kerja kerap dianggap sebagai beban berat. Namun, bagi Peggy, dinamika itu justru menjadi panggung eksperimen untuk menempa diri.
"Aktivitas aku di luar cukup banyak ya ternyata. Tapi alhamdulillah-nya masuk di UBSI ini kuliahnya fleksibel banget," kata Peggy ramah.
Jadi Brand Ambassador Kampus Lewat BSI Talent Squad
Kisah perjuangan Peggy kian berwarna saat ia terpilih menjadi bagian dari BSI Talent Squad. Program ini merupakan wadah apresiasi mahasiswa berbakat yang siap menjadi wajah representatif kampus di era digital atau menjadi brand ambassador kampus.
"Namanya BSI Talent Squad, ini tuh program yang difokuskan anak-anaknya menjadi talent UBSI. Kan zaman sekarang tuh internet udah canggih ya, segala macam udah serba online," tutur mahasiswi lulusan SMAN 16 Jakarta tersebut.
Dukungan yang didapatkan Peggy pun tidak main-main. Melalui skema evaluasi berbasis Key Performance Indicator (KPI), partisipasi aktif para anggota BSI Talent Squad diukur secara profesional untuk menentukan besaran nilai beasiswa yang berhak mereka dapatkan.
"Untuk beasiswa dari BSI Talent Squad sendiri, itu tuh beasiswanya 100 persen. Namun bertahap, jadi awal masuk itu tuh kita dikasih persentasenya 25%. Nanti ketika berjalan, persentasenya naik seiring berjalannya waktu sesuai KPI," jelas Peggy dengan antusias.
Kerja keras dan keaktifan Peggy akhirnya membuahkan hasil manis. Berkat ketekunannya menjalankan tugas sebagai content creator, host, hingga mengisi berbagai acara kampus dan diluar kampus, ia berhasil mendapat beasiswa secara penuh di UBSI.
" Alhamdulillah kemarin aku tuh udah dapat 100% juga. Kuliah dapat beasiswa tanpa repot pikirin biayanya," kenangnya mengumbar senyum.
Mengambil Freelance dan Seni Mengolah Waktu
Langkah Peggy tak berhenti di ruang-ruang kelas kampus. Di luar jam perkuliahan, ia aktif di dunia industri kreatif independen. Mulai dari mondar-mandir di atas panggung modeling, menjadi talent brand, menjalani prosesi syuting, hingga bertugas sebagai Sales Promotion Girl (SPG) di helatan besar seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ).
Bagi sebagian orang, tumpukan jadwal itu bisa jadi mimpi buruk. Namun bagi Peggy, kuncinya terletak pada manajemen waktu yang matang dan pemanfaatan sistem perkuliahan hybrid di UBSI.
"Di UBSI itu sistemnya hybrid, kan. Jadi ada yang online, ada yang offline, enak banget," ungkapnya.
"Setiap hari ada aja jadwalku. Kita tinggal pintar-pintarnya aja biar jadwal enggak bentrok,” tambahnya.
Bertanggung jawab dalam mengelola waktu tersebut tak hanya membuahkan pendapatan mandiri, namun juga memperkaya portofolio profesionalnya secara instan. BSI Talent Squad memberinya panggung untuk keluar dari zona nyaman, termasuk momen saat pertama kali ia dipercaya memegang mic sebagai Master of Ceremony (MC) dalam acara formal.
"Pertama kali nge-MC serius itu baru di BSI Talent. Banyak lah keuntungannya. Ada portofolio dari talent, nge-host, podcast, nge-MC, sampai portofolio volunteer pas kegiatan BSI Explore kemarin ke Banten," kenang Peggy.
Menemukan Jati Diri dari Panggung Teater Hingga Tampil di Pesta Copet
Melihat kelihaian Peggy berbicara dan tampil percaya diri di depan publik, sulit membayangkan bahwa dahulu ia pernah berada di fase krisis kepercayaan diri. Saat masih duduk di bangku SMA, Peggy mengaku belum menemukan jati diri dan arah potensinya.
Titik balik hidupnya baru hadir di penghujung masa sekolah setahun menuju lulus, tepatnya saat ia memberanikan diri bergabung dengan ekstrakurikuler teater di kelas 12.
"Waktu SMA tuh aku belum menemukan jati diri aku tuh sebenarnya ke mana. Tapi dari dulu aku udah tahu kalau aku anaknya supel, suka berbaur sama semua orang. Pas ikut teater kelas 12, baru di situ nemu, 'Oh kayaknya aku cocok deh Ilmu Komunikasi PR',” kenangnya.
Gairah yang menyala di dunia komunikasi tersebut lantas menuntunnya memilih UBSI kampus Slipi sebagai Kampus Digital Kreatif, menjadi pelabuhannya untuk kuliah. Pertimbangan biaya perkuliahan yang ramah di kantong serta kemudahan akses informasi beasiswa melalui media sosial kampus makin memantapkan pilihannya.
Pengalamannya di teater juga terbawa sampai sekarang. Membuatnya terlibat dalam beberapa projekan film, termasuk salah satunya “Pesta Copet” bareng Iqbaal Ramadhan. Dia ikut dalam salah satu scene sebagai korban pencopetan saat menonton festival musik.
Kini, hari-hari Peggy diisi dengan semangat untuk terus melangkah lebih jauh. Pengalaman berkuliah di UBSI kampus Slipi, sambil mengukir prestasi membuatnya sadar bahwa ketakutan terbesar sering kali hanya bersemayam di dalam pikiran manusia itu sendiri.
"Kalau misalnya aku enggak milih untuk kuliah, aku tuh enggak bakal ngerti kalau kuliah ternyata enggak semenakutkan itu. Yang mungkin aku takutin kayak enggak bisa ini-itu, pada akhirnya tergantung kitanya mau jadi seperti apa,” tutupnya.

1 hour ago
1















































