Menilik Potensi Ciplukan, Harta Karun Tersembunyi Indonesia untuk Anti-Diabetes

1 hour ago 2

Image nur ais

Riset dan Teknologi | 2026-06-27 16:38:14

Klinik Pelita Sehat" /> Sumber foto: Klinik Pelita Sehat

Tanaman liar berkantung unik ini bukan hal yang asing, bagi generasi yang tumbuh di pedesaan Indonesia sekitar belasan atau puluhan tahun lalu. Tanaman ini dikenal dengan sebutan “ciplukan” atau bahasa latinnya Physalis angulata yang sering kali tumbuh subur di pinggiran sawah, pekarangan rumah, atau semak-semak. Dahulu, buahnya yang manis-keasaman hanya menjadi incaran anak-anak sebagai camilan gratis saat bermain.

Siapa sangka, tanaman yang sempat dianggap sebagai gulma tidak berharga ini kini naik kasta. Di supermarket kota-kota besar, buah ciplukan (yang kini sering keren dengan nama golden berry) bisa dibanderol dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kilogram. Namun, daya tarik ciplukan bukan sekadar pada rasanya yang eksotis atau harganya yang melejit, melainkan pada potensi medisnya yang luar biasa, terutama sebagai senjata baru melawan diabetes melitus.

Senjata Rahasia di Balik Kantung Hijau

Diabetes melitus tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Data International Diabetes Federation (IDF) terus menempatkan Indonesia dalam daftar negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Di tengah ketergantungan kita pada obat-obatan kimia jangka panjang, eksplorasi terhadap kekayaan alam lokal menjadi krusial. Di sinilah ciplukan mengambil peran.

Berbagai riset farmakologi menunjukkan bahwa ciplukan (Physalis angulata) kaya akan senyawa aktif yang disebut physalin dan withanolides, selain kandungan flavonoid, saponin, dan polifenol yang tinggi. Senyawa-senyawa inilah yang bekerja sebagai antioksidan kuat dan agen antidiabetes.

Bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh?

  • Menurunkan Kadar Gula Darah

Riset dalam Journal of Vocational Health Studies (Universitas Airlangga) memaparkan bahwa senyawa aktif dalam ciplukan mampu menghambat kerja enzim alfa-glukosidase. Enzim ini bertugas memecah karbohidrat menjadi glukosa di usus. Dengan dihambatnya enzim ini, penyerapan glukosa ke dalam darah menjadi lebih lambat, sehingga mencegah lonjakan gula darah setelah makan.

  • Memperbaiki Sensitivitas Insulin

Salah satu masalah utama pada diabetes tipe 2 adalah resistensi insulin, kondisi di mana sel tubuh tidak peduli terhadap sinyal insulin. Ekstrak ciplukan diketahui membantu meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, sehingga glukosa dapat diubah menjadi energi dengan lebih efisien.

  • Regenerasi Sel Beta Pankreas

Beberapa studi laboratorium mengindikasikan bahwa sifat antiinflamasi pada ciplukan membantu melindungi dan memperbaiki kerusakan pada sel beta pankreas, organ yang bertanggung jawab memproduksi insulin.

Dari Pekarangan Menuju Laboratorium Modern

Keunggulan ciplukan sebagai tanaman obat bukan sekadar mitos tutur tinular atau jamu tradisional tanpa dasar. Validasi ilmiah terhadap ciplukan terus bermunculan dari berbagai institusi riset dan universitas di Indonesia. Para peneliti mengeksplorasi tidak hanya buahnya, melainkan seluruh bagian tanaman—mulai dari akar, batang, hingga daunnya—yang ternyata memiliki konsentrasi senyawa antidiabetes yang signifikan jika diekstrak dengan benar.

Namun, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah potensi pekarangan ini menjadi produk fitofarmaka (obat herbal terstandar yang telah lolos uji klinis) yang siap diresepkan oleh dokter. Indonesia memiliki modal biodiversitas yang kuat, tetapi sering kali lemah dalam hilirisasi riset.

Tanpa adanya jembatan yang kuat antara peneliti di laboratorium dengan industri farmasi nasional, ciplukan akan tetap menjadi "potensi yang tertidur" di jurnal-jurnal ilmiah tanpa pernah benar-benar menyembuhkan masyarakat luas.

Kesimpulan

Ciplukan menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak perlu mencari jauh-jauh ke luar negeri untuk menemukan solusi kesehatan masa depan. Apa yang selama ini kita injak di pinggir sawah ternyata menyimpan jawaban atas salah satu penyakit paling mematikan di era modern.

Mendukung riset lokal dan mulai melirik kembali kekayaan herbal nusantara bukan lagi sekadar romantisasi masa lalu, melainkan strategi ketahanan kesehatan nasional yang mendesak. Sudah saatnya kita memandang ciplukan bukan lagi sebagai gulma pengganggu, melainkan sebagai harta karun emas yang siap menjaga kesehatan bangsa.

REFERENSI

International Diabetes Federation. (2021). IDF Diabetes Atlas (10th ed.). International Diabetes Federation.

Pertiwi, K. D., & Susanto, H. (2020). Antidiabetic activity of Physalis angulata L. extract: A review. Journal of Vocational Health Studies, 4(1), 35–42.

Riyanto, S., & Warditiani, N. K. (2019). Skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba ciplukan (Physalis angulata L.). Jurnal Farmasi Udayana, 8(2), 67-73.

Sun, L., & Wang, H. (2019). Anti-inflammatory and antidiabetic effects of physalins isolated from Physalis angulata. Phytomedicine, 58, 152865.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |