Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Penjajah Israel dilaporkan tengah menghadapi kebuntuan yang kian mendalam dalam mengelola perang di Lebanon serta ketegangan dengan Iran. Surat kabar Israel, Maariv, mengungkapkan bahwa situasi sulit ini diperparah oleh kondisi kesehatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang tengah menjalani serangkaian pengobatan medis kompleks.
Laporan yang dilansir Al Mayadeen tersebut mengeklaim bahwa kondisi fisik Netanyahu menghambat upaya untuk menerjemahkan apa yang disebut sebagai "pencapaian militer" menjadi hasil politik yang konkret. Di medan tempur, Maariv mencatat adanya pergeseran dinamika. Hizbullah kini melancarkan serangan berkelanjutan terhadap pasukan pendudukan dari fajar hingga petang. Hal ini memaksa militer Israel berada dalam posisi reaktif dan sulit memulai operasi ofensif.
Selain itu, pengambilan keputusan di Tel Aviv disebut-sebut sangat dipengaruhi oleh pihak eksternal. Maariv melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara efektif menyetir perkembangan situasi, sementara kepemimpinan politik Israel memiliki kemampuan terbatas dalam memengaruhi keputusan Washington.
Kanker prostat
Sorotan tajam tertuju pada kesehatan Netanyahu. Laporan tersebut menyatakan bahwa Netanyahu menderita kanker prostat, sebuah kondisi serius mengingat riwayat medisnya yang kompleks, termasuk masalah jantung sebelumnya dan penggunaan alat pacu jantung.
Surat kabar tersebut mempertanyakan kemampuan Netanyahu untuk beristirahat dengan cukup di sela-sela pengobatan. Muncul kekhawatiran mengenai efek samping pengobatan, beban psikologis, kelelahan, hingga potensi gangguan ingatan yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan strategis.
Maariv juga menuding Pusat Medis Hadassah berupaya menutupi informasi terkait perawatan Netanyahu. Praktik semacam ini disebut bukan pertama kalinya terjadi di rumah sakit Israel, yang memicu kekhawatiran terkait implikasi keamanan nasional.
Laporan tersebut menarik rekaman sejarah para pemimpin Israel terdahulu yang menyembunyikan penurunan kesehatan mereka saat masa perang, seperti Golda Meir pada Perang Oktober, Menachem Begin pada invasi Lebanon 1982, hingga Ehud Olmert dan Ariel Sharon.

4 hours ago
5
















































