REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, menjalani verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari pada Kamis (20/8/2026). Verifikasi dilakukan untuk melihat kesesuaian antara data yang diunggah dalam Sistem Registri Nasional dengan kondisi di lapangan.
Ketua ProKlim Sangurejo Muhammad Chairul Huda mengatakan, verifikasi lapangan merupakan bagian dari penilaian calon ProKlim Lestari. Data yang sudah diunggah dalam Sistem Registri Nasional akan diklarifikasi dengan kondisi yang ada di Padukuhan Sangurejo.
"Verifikasi lapangan itu kombinasi calon program Lestari 2024, yaitu mengklarifikasi antara data yang di upload di Sistem Registri Nasional dengan kondisi di lapangan yang ada di Padukuhan Sangurejo, apakah hal itu benar-benar aksi nyata atau hanya sekadar administrasi saja," kata Chairul.
Menurut dia, dalam verifikasi tersebut terdapat tiga aksi yang dilihat, yaitu aksi adaptasi, aksi mitigasi, dan kelembagaan. Data yang sudah diunggah akan diklarifikasi melalui verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan data tersebut.
Chairul mengatakan, keberlanjutan menjadi hal penting dalam menjalankan program ProKlim. Menjaga lingkungan, kata dia, bukan hanya untuk mencari penghargaan.
"Kita harus terus berkelanjutan karena menjaga lingkungan itu bukan hanya sekadar mencari penghargaan saja, itu adalah bonus saja. Kita benar-benar berniat untuk menjaga lingkungan," ujarnya.
Menurut Chairul, ketika lingkungan dijaga, alam akan memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat. Selain lingkungan yang lebih bersih dan tertata, masyarakat juga mendapatkan peningkatan ekonomi.
"Kita mempunyai prinsip bahwa kita menjaga lingkungan itu yang akan dinikmati oleh anak cucu kita," katanya.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, berharap Kampung Sangurejo tidak hanya menjalankan program ketika mengikuti lomba. Program yang sudah berjalan diharapkan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat setelah proses penilaian selesai.
“Kami harap Kampung Sangurejo tidak pas lomba saja, tapi setelah ini bisa bermanfaat secara ekonomi UMKM, secara alam. Program Lestari sebagai pemantik," kata Danang.
Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Koko Wijanarko, mengatakan predikat Lestari mendorong agar aksi-aksi yang sudah dilakukan masyarakat tetap berjalan. Selain itu, masyarakat juga diharapkan memiliki pengetahuan untuk dapat dibagikan kepada lokasi lain.
“Ini sebenarnya Lestari itu mendorong bagaimana mereka tetap berjalan, aksi-aksi tetap berjalan, kemudian bagaimana mereka punya pengetahuan karena ibaratnya ProKlim media untuk bergotong royong,” ujarnya.
Koko mengatakan, ProKlim bukan hanya lomba. Ketika menjadi ProKlim Utama, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi lokasi-lokasi lain seperti yang telah mereka lakukan.
Menurutnya, jika sudah mendapatkan predikat Lestari, masyarakat telah memiliki komunitas yang saling berkomunikasi. Kementerian dapat mengawal dan mengkomunikasikan teknologi yang dimiliki di satu tempat dengan kebutuhan di tempat lain.
“Lestari adalah beban bagi teman-teman karena mereka punya tanggung jawab. Mendapatkan trofi Lestari bukan berarti selesai,” katanya.
Koko menjelaskan, penghargaan diberikan setelah mereka berhasil melakukan pembinaan di 10 lokasi. Menurutnya, cara berpikir dalam ProKlim bukan mencari trofi, tetapi karena telah melakukan pembinaan, kemudian Kementerian memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan.
Sementara itu, Panewu Kapanewon Turi Joko Susilo mengatakan, Sangurejo mengalami perubahan dari yang sebelumnya dikenal sebagai padukuhan kumuh dan miskin menjadi padukuhan ProKlim yang dikenal di tingkat lokal, regional, maupun nasional.
“Dari padukuhan kumuh dan miskin, sekarang dikenal sebagai padukuhan ProKlim baik tingkat lokal, regional, maupun nasional,” ujarnya.
Menurut Joko, manfaat ProKlim juga dirasakan masyarakat dari sisi sosial dan ekonomi. Banyak masyarakat dari lokal, luar provinsi, bahkan dunia yang berkunjung ke Sangurejo.
Masyarakat Padukuhan Sangurejo setiap harinya juga didatangi tamu dari luar, termasuk tamu yang melakukan olahraga di sekitar Embung Sangurejo. Kondisi tersebut turut meningkatkan ekonomi masyarakat.
Selain ekonomi, Joko mengatakan program ProKlim juga memberikan manfaat terhadap kesehatan masyarakat. Dulu banyak warga yang sering mengalami sakit, namun dengan program ProKlim derajat kesehatan masyarakat Sangurejo, khususnya dan masyarakat Kapanewon Turi, dapat lebih membaik.
Joko menambahkan, perubahan yang paling signifikan dalam dua tahun terakhir terlihat dari sisi kerja sama. Sangurejo mendapat dukungan dari lembaga-lembaga eksternal untuk melakukan pembinaan di wilayah Kapanewon Turi. Pembinaan tersebut meliputi pengelolaan sampah, penggunaan bahan lokal sebagai pewarna lokal untuk produk batik, serta pemanfaatan ruang rumah tangga untuk memberikan ketahanan pangan.
“Setiap tahunnya selalu memberikan sebuah pembinaan yaitu melalui strategi lomba Kampung Hijau. Ini bisa mendorong bagi warga-warga kami untuk lebih memperhatikan terhadap lingkungan alam yang ada,” katanya.
Program yang dilakukan antara lain ecoprint, biopori, bank sampah, dan sumur resapan.

32 minutes ago
1
















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)