POLITEKNIK Tempo menggelar wisuda kedua pada Sabtu, 12 Juli 2025, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat. Sebanyak 25 mahasiswa dari Program Studi Produksi Media, Desain Media, dan Manajemen Pemasaran Internasional telah dikukuhkan sebagai sarjana terapan dalam sidang senat terbuka tersebut.
Direktur Politeknik Tempo Shalfi Andri menyampaikan sebagian besar peserta yang diwisuda hari ini telah bekerja sebelum resmi meraih gelar sarjana. Sementara itu, sisanya masih aktif mengikuti program magang.
“Sebagian lulusan bahkan tengah menjalani proses magang di berbagai perusahaan nasional,” ujar Shalfi dalam sambutannya.
Meski demikian, menurut Shalfi, Politeknik Tempo tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan dari proses pendidikan. Dia mengingatkan para lulusan agar tidak menjadikan pekerjaan sebagai tujuan akhir dalam karier. “Pendidikan bukan berhenti pada kelulusan, tetapi berlanjut pada kehidupan setelahnya,” ujarnya.
Dalam prosesi tersebut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, turut menyampaikan orasi ilmiah mengenai peluang dunia kerja di industri kreatif. Arif menyoroti tingginya kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil, terutama di sektor media dan kreatif yang terus berkembang seiring pesatnya teknologi digital.
Namun, Arif menyoroti lambatnya laju inovasi teknologi di dalam negeri. “Permasalahan utama Indonesia saat ini adalah inovasi di bidang teknologi yang masih lambat dibandingkan negara lain,” kata mantan Rektor IPB University tersebut.
Oleh karena itu, Arif mengajak masyarakat untuk memacu inovasi, terlebih Indonesia tengah memasuki masa bonus demografi. Ia mengungkapkan bahwa penduduk usia produktif Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, dengan rasio ketergantungan yang diproyeksikan mencapai titik terendah sebesar 46,9 persen pada periode 2028–2031.
Ia menambahkan, kemajuan suatu bangsa selalu ditopang oleh inovasi rakyatnya. Arif mencontohkan Cina yang mampu memproduksi kendaraan listrik BYD hingga mengalahkan dominasi Tesla. Hal itu didorong oleh ekosistem inovasi Cina yang mampu mencatatkan lebih dari satu juta pendaftaran hak paten setiap tahunnya.
Arif optimistis Indonesia dapat memanfaatkan peluang tersebut jika generasi muda memiliki mindset yang tepat, seperti kemauan untuk belajar, kemampuan beradaptasi, serta kegigihan dalam berinovasi. “Kuncinya ada pada mentalitas untuk terus beradaptasi dan menciptakan masa depan,” ucap dia.
Pada wisuda kali ini, Politeknik Tempo juga menetapkan tiga lulusan terbaik dari masing-masing program studi. Ketiganya adalah Maya Syafira Haryanti dari jurusan Desain Media, Laila Rahmatillah dari Manajemen Pemasaran Internasional, dan Ariadne Khatarina Moniaga dari Produksi Media.
Pilihan Editor: Seminar Politeknik Tempo Bahas Tantangan Jurnalis Perempuan















































