Polri Kirim 148 Pasukan Tambahan ke Dogiyai Papua Tengah

5 hours ago 3

KEPOLISIAN Negara Republik Indonesia (Polri) mengirimkan ratusan personel Brimob dan tim gabungan ke Papua Tengah sebagai upaya memperkuat pengamanan. Pengiriman personel ini buntut dugaan penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian Brigadir Dua Juventus Edowai.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko berdalih pengiriman pasukan ini untuk menjaga stabilitas keamanan di Papua Tengah. “Kami juga mengedepankan pendekatan humanis serta penegakan hukum terhadap para pelaku kekerasan,” kata dia dalam keterangan tertulis, Ahad, 5 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dugaan penganiayaan yang menimpa Bripda Juventus Edowai dilakukan oleh orang tak dikenal di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Namun, hingga kini polisi belum mengungkap detail lebih lanjut peristiwa yang merenggut nyawa Bripda Juventus tersebut.

Adapun, total personel gabungan yang diberangkatkan ke Papua Tengah berjumlah 148 orang, termasuk di dalamnya 100 personel Brimob, 10 personel tim Badan Intelijen dan Keamanan (BIK), serta 20 personel tim Bareskrim. Mereka berangkat pada Ahad, pukul 1.00 WIB menggunakan maskapai Batik Air dengan tujuan Nabire.

Kondisi keamanan di Papua Tengah, khususnya di Kota Moanemani dan Kabupaten Dogiyai sempat mencekam setelah Bripda Juventus tewas pada Selasa, 31 Maret 2026. Pascapembunuhan itu aparat keamanan diduga melakukan operasi penyisiran di beberapa tempat sambil melepaskan tembakan.

Berdasarkan data yang dihimpun Amnesty International, ada tiga korban jiwa dari kelompok warga sipil. Ketiganya yakni Ester Pigai, 60 tahun, yang terkena tembakan di badan; Siprianus Tibakoto, 18 tahun, terkena tembakan di bagian belakang kepala; dan Martinus Yobe atau Yoseph Yobe yang terkena tembakan di bagian perut. 

Kekerasan berlanjut dengan adanya pembakaran dua buah mobil oleh orang tidak dikenal. Pengemudinya diduga berhasil melarikan diri ke dalam hutan. "Tragedi yang bermula dari pembunuhan seorang polisi ini dengan cepat tereskalasi menjadi rentetan peristiwa berdarah yang turut merenggut nyawa masyarakat sipil," kata Deputi Direktur Amnesty International Indonesia Wirya Adiwena lewat keterangan tertulis, Kamis, 2 April 2026.

Sementara itu, Juru bicara Jaringan Damai Papua dan advokat HAM, Yan Christian Warinussy, mengatakan jumlah warga sipil yang tewas akibat tertembak senjata api mencapai sembilan orang. Kematian mereka diduga akibat balas dendam kepolisian setempat atas kematian  Bripda Juventus

Yan mendesak Komnas HAM RI membentuk tim dan melakukan investigasi langsung ke Dogiyai dan menetapkan kasus ini sebagai pelanggaran HAM. Ia juga mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memerintahkan anak buahnya menghentikan tindakan sewenang-wenang terhadap warga sipil di Kabupaten Dogiyai dan sekitarnya. 

“Kasus Dogiyai tidak bisa diselesaikan hanya sekedar melalui jalan mediasi dan bayar membayar adat semata. Penyelesaian hukum atas dugaan pelanggaran HAM berat mesti menjadi pertimbangan semua pihak," katanya kepada Tempo, 2 April 2026.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah Brigadir Jenderal Jeremias Rontini membensrksn jika kekerasan berlanjut hingga Selasa malam setelah Bripda Juventus tewas. Beberapa personel polisi yang patroli mengalami serangan dan mengalami luka.

Ia menuturkan terjadi pula serangan ke Markas Polres Dogiyai dan menyebabkan seorang anggota polisi terluka karena terkena anak panah di bahu belakang.

Namun untuk saat ini, klaim Jeremias, kondisi di Kabupaten Dogiyai berangsur kondusif. "Situasi di wilayah Kabupaten Dogiyai saat ini dalam keadaan aman dan terkendali. Kami mengimbau masyarakat tidak terprovokasi isu-isu yang berkembang dan mempercayakan penanganan kepada aparat TNI dan Polri," kata Kapolda di Nabire, Rabu malam, 1 April 2026.

Eka Yudha, Hammam Izzuddin, dan Antara berkontribusi dalam artikel ini
Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |