Ribuan Jamaah Sholat Ied di Masjid Gedhe Kauman Yogya, Pesan Takwa Menggema di Hari Raya

8 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ribuan jamaah memadati Masjid Gedhe Kauman Kota Yogyakarta untuk melaksanakan sholat Idul Fitri pada Jumat, (20/3/2026) pagi. Pelaksanaan sholat Ied ini mengikuti keputusan Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari ini.

Sejak pagi hari, jamaah dari berbagai wilayah di Yogyakarta dan sekitarnya telah memadati area masjid hingga ke pelataran. Sebagian besar datang bersama keluarga dan sanak saudaranya. Suasana khidmat mulai terasa saat takbir berkumandang, menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya hari kemenangan.

Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib menekankan, pentingnya keimanan dan ketakwaan sebagai tujuan utama dari ibadah puasa Ramadhan. “Insya Allah kita benar-benar dinyatakan sebagai hamba yang dapat mencapai kemenangan dan derajat takwa yang sebenar-benarnya,” ujarnya saat memyampaikan khutbah di hadapan jamaah Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Jumat (20/3/2026).

Ustadz Izzul mengingatkan, puasa yang dijalankan selama sebulan penuh memiliki tujuan utama untuk membentuk ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa agar menjadi insan bertakwa. Dia menjelaskan, indikator ketakwaan tidak hanya tercermin dari ibadah ritual, tetapi juga dari perilaku sosial. Menurutnya, orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan para nabi, serta mampu mengamalkan nilai-nilai sosial seperti membantu sesama, menunaikan zakat, menepati janji, dan bersabar dalam berbagai kondisi.

“Ketakwaan seseorang harus terlihat seimbang secara spiritual, sosial, dan material. Tidak cukup hanya dalam kualitas ibadah, tetapi juga harus terwujud dalam kehidupan pribadi dan sosial,” ucapnya.

Ia menambahkan, keimanan dan ketakwaan sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial. Seseorang tidak dapat dikatakan bertakwa jika masih sering berkata buruk, menyakiti orang lain, atau tidak mampu memuliakan tamu dan tetangga. 

Dalam konteks kehidupan modern, Izzul menyoroti tantangan menurunnya interaksi sosial akibat dominasi komunikasi digital yang saat ini semakin merajalela. Hal ini dinilai dapat mengikis rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.

Ustaz Izzul mencontohkan berbagai fenomena sosial seperti kekerasan dalam keluarga hingga praktik korupsi sebagai bukti bahwa nilai keimanan dan ketakwaan belum sepenuhnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita menjadi semakin antisosial, kehilangan rasa simpati dan empati. Jika tidak dilandasi keimanan dan ketakwaan, kondisi ini bisa mendorong meningkatnya perilaku menyimpang,” ungkapnya.

Menutup khutbahnya, Izzul mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik awal memperbaiki diri, baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara.

“Marilah kita bertekad mewujudkan keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita dapat membangun masyarakat yang saling mendukung dan membawa kebaikan,” pesannya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |