Riset Ungkap Pohon tak Lagi Efektif Sejukkan Banyak Kota di Dunia

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Penelitian terbaru mengungkap tutupan pohon di banyak kota dunia belum cukup efektif menurunkan suhu perkotaan, terutama di negara-negara berkembang yang justru paling rentan terhadap panas ekstrem. Ketimpangan akses ruang hijau disebut membuat manfaat pendinginan alami hanya dirasakan sebagian kecil kota miskin.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan, secara rata-rata tutupan pohon hanya mampu menurunkan suhu sekitar 0,15 derajat Celsius di kota-kota dunia. Sementara tanpa pohon, suhu kawasan perkotaan bisa meningkat sekitar 0,31 derajat Celsius akibat fenomena urban heat.

Panas perkotaan terjadi karena dominasi atap dan trotoar berwarna gelap yang menyerap panas. Fenomena ini berbeda dari pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil, meski sama-sama dipicu aktivitas manusia.

Peneliti menganalisis hampir 9.000 kota besar dengan detail hingga per segmen 150 blok kota. Pendekatan itu dilakukan agar efek pendinginan pohon bisa diukur lebih akurat di tiap wilayah perkotaan.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 185 juta penduduk di 31 kota besar telah merasakan manfaat signifikan dari tutupan pohon. Namun, banyak kota miskin dan panas justru hampir tidak mendapatkan efek pendinginan tersebut.

Peneliti Nature Conservancy sekaligus ketua riset, Rob McDonald mengatakan, panas perkotaan menjadi ancaman serius bagi kesehatan karena dapat memicu gangguan otak, gagal organ, hingga penyakit jantung.

“Ketika anda melihat kota-kota di seluruh dunia, banyak sekali kota, terutama di negara berkembang, yang tutupan pohonnya sangat sedikit, jadi saya kira suhu dingin juga lebih rendah dari yang kami perkirakan,” kata McDonald, Rabu (6/5/2026).

Para ilmuwan menggunakan kombinasi data stasiun cuaca, satelit, dan model komputer untuk membandingkan suhu pusat kota dan pedesaan dalam mengukur efektivitas pendinginan dari tutupan pohon.

Di sejumlah kota seperti Dakar, Jeddah, Kuwait City, dan Amman, efek pendinginan pohon disebut hampir tidak terasa. Akibatnya, jutaan warga di kota-kota tersebut tidak memperoleh manfaat pendinginan alami.

Sebaliknya, kota-kota di negara maju seperti Berlin, Atlanta, dan Seattle memperoleh manfaat lebih besar dari ruang hijau perkotaan. Penelitian menunjukkan sekitar 40 persen kota di negara kaya menikmati pendinginan alami dari tutupan pohon, sedangkan di negara miskin hanya sekitar 9 persen.

Ekolog dari King Abdullah University of Science and Technology, Thomas Crowther menilai vegetasi perkotaan akan semakin penting seiring meningkatnya populasi kota. Namun, distribusi pohon yang tidak merata membuat kelompok berpenghasilan rendah menjadi paling rentan terhadap gelombang panas.

McDonald mengatakan, penanaman pohon tetap penting, tetapi memiliki keterbatasan karena kebutuhan lahan dan air. Menurut dia, pohon diperkirakan hanya mampu mengurangi sekitar 20 persen pemanasan perkotaan di masa depan.

“Pohon tidak bisa menyelamatkan kita sepenuhnya dari perubahan iklim. Skenario iklim menunjukkan dunia akan tetap memanas secara drastis, dan kemampuan pohon ada batasnya,” kata McDonald.

Meski begitu, penanaman pohon tetap dinilai penting karena mampu menyerap karbon dioksida. Sejumlah pihak bahkan mengusulkan penanaman satu triliun pohon tambahan untuk membantu menyerap emisi karbon global.

Dekan jurusan lingkungan University of Michigan Jonathan Overpeck menegaskan solusi utama tetap berada pada percepatan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.

“Hanya dengan beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan baterai yang kami harapkan dapat menahan perubahan iklim yang menghancurkan planet ini,” ujar Overpeck.

sumber : AP

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |