REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, menanggapi pernyataan politisi PDI Perjuangan Deddy Sitorus yang menyindir Partai Golkar terkait persoalan kelistrikan. Menurutnya, kritik yang disampaikan Deddy perlu ditempatkan secara objektif dengan melihat rekam jejak persoalan energi nasional secara menyeluruh.
Abdul Rahman mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi ancaman krisis pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada 2022 ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dipimpin Arifin Tasrif. Saat itu pemerintah mengakui pasokan batu bara untuk pembangkit listrik berada dalam kondisi kritis akibat rendahnya pemenuhan kewajiban pasokan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) oleh sejumlah perusahaan tambang.
“Pak Deddy pernah membela Arifin Tasrif sebagai menteri yang direkomendasikan PDIP. Karena itu, Pak Dedy jangan amnesia politik. Lupa bahwa krisis batu bara PLN juga terjadi pada masa beliau,” kata Abdul Rahman, Senin (22/6).
Menurutnya, pernyataan tersebut penting untuk mengingatkan publik bahwa persoalan listrik dan ketahanan energi bukanlah masalah yang muncul dalam beberapa bulan terakhir, melainkan tantangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan membutuhkan penyelesaian jangka panjang.
Ia menilai tidak tepat apabila setiap gangguan kelistrikan yang terjadi saat ini langsung diarahkan sebagai kesalahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia maupun Partai Golkar. Sebab, persoalan energi merupakan isu yang kompleks dan lintas waktu yang melibatkan banyak faktor, mulai dari pasokan energi primer, infrastruktur, hingga tata kelola sektor energi secara keseluruhan.
Abdul Rahman juga menyoroti sikap Deddy Sitorus yang pada saat pergantian Menteri ESDM tahun 2024 secara terbuka mempertanyakan pencopotan Arifin Tasrif dan menyebut mantan Menteri ESDM tersebut sebagai sosok yang direkomendasikan oleh PDIP.
Menurutnya, jika Deddy ingin mengkritik kondisi energi saat ini, maka kritik tersebut seharusnya disampaikan secara konsisten dengan tetap mengakui bahwa tantangan serupa pernah terjadi pada masa menteri yang selama ini dibelanya.
"Bahkan kalau mau menghitung waktu Pak Bahlil itu belum cukup 2 Tahun menjabat Menteri ESDM dibandingkan kawannya pak Dedi menjadi Menteri ESDM selama 4 tahun, mestinya lebih memiliki waktu dalam menyelesaikan kelistrikan yang terkait dengan pembangkit, jaringan dan batubara," ujarnya.
Lebih lanjut, Abdul Rahman menegaskan bahwa fokus utama Menteri Bahlil saat ini dalam hal kelisttikan adalah membangun pembangkit baru bagi PLN dan menerangi ribuan desa yang saat ini belum menikmati layanan listrik. Visi Presiden Prabowo tentang listrik merupakan program prioritas untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan energi.
“Masyarakat membutuhkan solusi, bukan saling menyalahkan. Yang terpenting adalah memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan pelayanan listrik kepada masyarakat terus terjaga,” tutup Abdul Rahman.
sumber : Antara

2 hours ago
2

















































