REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui workshop yang diselenggarakan pada 21 April 2026 dan dipimpin oleh Dr Laila Katriani bersama tim dosen dan mahasiswa Fisika FMIPA UNY.
Kegiatan ini berfokus pada pengembangan bioabsorben berbasis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengurangi emisi gas amonia pada limbah peternakan ayam. Inovasi tersebut tidak hanya menjadi bentuk hilirisasi hasil penelitian, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan teknologi dan inovasi berbasis hasil riset yang dapat diterapkan untuk mendukung sektor peternakan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga pendanaan, dan masyarakat dalam mewujudkan solusi yang berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap aspek kesehatan masyarakat, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta pelestarian lingkungan. kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, UNY berupaya menghadirkan solusi yang aplikatif sekaligus berkelanjutan bagi sektor peternakan.
Sebagai implementasi dari upaya tersebut, workshop dilaksanakan di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo, wilayah yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor peternakan ayam. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingginya kebutuhan peternak akan teknologi sederhana yang mampu mengatasi permasalahan emisi amonia di lingkungan kandang.
Oleh karena itu, kegiatan ini dihadiri oleh 42 peserta yang melibatkan para peternak sebagai mitra utama agar mereka dapat memahami sekaligus menerapkan inovasi yang diperkenalkan. Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh pendampingan langsung dari tim pengabdian yang diketuai oleh Dr Laila Katriani selaku narasumber utama sekaligus penggagas pengembangan bioadsorben berbasis belimbing wuluh.
Dalam workshop tersebut, peserta diajak memahami berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh emisi gas amonia sebagai salah satu tantangan utama dalam aktivitas peternakan ayam. Selain menyebabkan bau yang menyengat, gas amonia diketahui dapat menurunkan kualitas udara sehingga berdampak negatif terhadap kesehatan ternak maupun masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi peternakan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim pengabdian memaparkan proses pengolahan ekstrak belimbing wuluh menjadi bioadsorben berbentuk granul yang dirancang untuk menyerap gas amonia secara efektif. Material yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), yang menunjukkan keberadaan gugus fungsi aktif dengan kemampuan berinteraksi terhadap molekul amonia. Hasil pengujian laboratorium memperlihatkan adanya penurunan konsentrasi amonia secara bertahap, sedangkan uji lapangan selama tujuh hari di kandang mitra peternak menunjukkan hasil yang lebih signifikan, yakni penurunan konsentrasi amonia hingga 91,3 persen pada salah satu titik pengamatan dan bahkan mencapai 0 ppm pada titik lainnya.
"Kami berharap bioadsorben berbasis belimbing wuluh ini dapat menjadi alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis untuk membantu peternak mengurangi emisi amonia serta meningkatkan kualitas lingkungan kandang," ujar Dr Laila Katriani.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan belimbing wuluh tidak hanya berpotensi menjadi material fungsional bernilai tambah, tetapi juga mendukung implementasi SDGs melalui peningkatan kesehatan lingkungan, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, serta pengendalian dampak perubahan iklim.
Keberhasilan pelaksanaan workshop ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dana EQUITY Dalam Negeri Tahun 2025–2026 yang didukung oleh UNY dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui program tersebut, UNY terus mendorong hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti pada skala laboratorium, melainkan dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, inovasi bioadsorben berbasis belimbing wuluh diharapkan dapat diadopsi secara lebih luas sebagai solusi ramah lingkungan bagi sektor peternakan, sekaligus memperkuat kontribusi UNY dalam mendukung pencapaian SDGs. Ke depan, kegiatan serupa juga akan terus dikembangkan dan dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai daerah sehingga manfaat inovasi ini dapat dirasakan oleh masyarakat dalam skala yang lebih luas.

13 hours ago
5













































