74 Mahasiswa Statistika Unair Mengaku Kecanduan AI

2 hours ago 2

Image Nila Khoirun Naili Salam

Eduaksi | 2026-06-27 23:16:31

Penelitian oleh Marisa Rifada, S.Si, M.Si., Shafira Nayla Syifa Putri Wibowo, Afrillia Riski Cahyani, Diah Ayu Nofitasari, dan Nila Khoirun Naili Salam - Program Studi Statistika, FST, Universitas AirlanggaSurabaya - Kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar alat bantu, tapi telah menjelma menjadi "kutu buku digital" bagi mahasiswa. Sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan bahwa 74% mahasiswa Statistika Universitas Airlangga angkatan 2023-2025 mengaku ketergantungan pada AI dalam menyelesaikan tugas project.

Hasil Riset: Angka yang Tak Bisa DiabaikanPenelitian dengan metode systematic random sampling terhadap 119 mahasiswa ini mengungkap bahwa:- 74% mahasiswa menunjukkan ketergantungan pada AI- Margin of error hanya 6,44% artinya menunjukkan akurasi tinggi- 10 pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid dan reliabel (Cronbach's Alpha 0,841)Ini bukan sekadar tren, tapi fenomena yang mengkhawatirkan. Mayoritas mahasiswa mengaku langsung mencari jawaban melalui AI dibanding memahami materi terlebih dahulu.

Tanda-Tanda Kecanduan AkademikPenelitian mengidentifikasi pola menarik:- Referensi pertama (AI menjadi sumber awal saat mengerjakan tugas)- Hilangnya percaya diri (mahasiswa mulai ragu mengerjakan tugas tanpa AI)- Pemahaman dangkal (tugas selesai cepat tapi materi tidak dikuasai)- Analisis data (AI digunakan dalam pengolahan dan analisis data statistika)- Laporan dan presentasi (AI membantu penyusunan hingga tahap akhir)

Ironi di Balik KemudahanProf. Chakraborty dalam studinya (2026) mengingatkan bahwa dalam paradigma Education 5.0, AI seharusnya menjadi mitra kolaboratif manusia bukan pengganti. Namun realitas di lapangan justru sebaliknya. Dulu mahasiswa berjuang memahami konsep. Kini mereka tinggal bertanya ke AI. Hasilnya? Cepat, tapi tidak bermakna

Siapa yang Paling Terdampak?Dari 119 responden:- Perempuan: 68,9%- Laki-laki: 31,1%- Angkatan 2023: 32,8%- Angkatan 2024: 32,8%- Angkatan 2025: 34,4%Distribusi merata menunjukkan fenomena ini telah menyebar lintas angkatan.

Solusi: Bukan Dilarang, Tapi DibatasiPara peneliti merekomendasikan:- Gunakan AI di tahap awal untuk mencari referensi bukan langsung berupa jawaban- Melatih kemandirian dengan mengerjakan tanpa AI secara bertahap- Perkuat pemahaman mandiri tanpa bantuan AI

Darurat Literasi AITemuan ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan tinggi. Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi merusak kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian belajar.

PenutupSudahkah kita menjadi pengguna AI yang bijak, atau justru budak teknologi yang tanpa sadar kehilangan kemampuan berpikir?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |