Kecerdasan buatan atau AI (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Ledakan penggunaan kecerdasan artifisial (AI) diperkirakan tidak hanya meningkatkan kebutuhan listrik dunia, tetapi juga berpotensi menekan pasokan air dan penggunaan lahan dalam skala besar. Penelitian terbaru United Nations University (UNU) memperkirakan konsumsi listrik pusat data AI global mencapai 945 terawatt-hour (TWh) per tahun pada 2030 atau hampir tiga kali lipat kebutuhan listrik Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria yang berpenduduk gabungan sekitar 650 juta jiwa.
Laporan tersebut menunjukkan dampak lingkungan AI tidak hanya berasal dari konsumsi energi. Infrastruktur AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan pusat data serta lahan yang luas untuk mendukung pembangkit listrik dan rantai pasoknya.
Penelitian itu memperkirakan konsumsi air AI global pada akhir dekade ini dapat setara dengan kebutuhan air 1,3 miliar orang. Sementara kebutuhan lahannya mencapai 14.500 kilometer persegi atau hampir dua kali luas kawasan Jabodetabek.
Dikutip dari situs resmi PBB, Senin (8/6/2026), laporan tersebut menyoroti dampak lingkungan AI yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kajian sebelumnya lebih banyak berfokus pada emisi karbon dari pusat data, sementara tekanan terhadap sumber daya air dan lahan relatif jarang dibahas.
Peneliti menilai upaya mengurangi emisi melalui pengembangan infrastruktur AI berpotensi memunculkan tekanan lingkungan baru. Penggunaan sumber energi tertentu memang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, namun di sisi lain membutuhkan lebih banyak air dan lahan. Kondisi itu dinilai berisiko bagi wilayah yang sudah menghadapi keterbatasan sumber daya air atau lahan produktif.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa penggunaan AI sehari-hari justru menjadi penyumbang terbesar konsumsi energi. Aktivitas operasional AI diperkirakan menyumbang sekitar 80 hingga 90 persen dari total kebutuhan energi, jauh lebih besar dibandingkan proses pelatihan model AI.
"Skalanya sangat mencengangkan: satu layanan AI yang banyak digunakan diperkirakan memproses sekitar 2,5 miliar permintaan (prompt) per hari, mengonsumsi ratusan gigawatt per jam listrik setiap tahunnya," tulis laporan tersebut.
Kebutuhan energi juga berbeda untuk setiap jenis layanan AI. Pembuatan gambar dengan AI membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan permintaan berbasis teks, sedangkan pembuatan video memerlukan konsumsi energi yang lebih tinggi lagi.
Penelitian itu memperingatkan peningkatan efisiensi teknologi belum tentu mampu menekan lonjakan konsumsi energi. Fenomena yang dikenal sebagai rebound effect membuat penggunaan AI justru meningkat ketika teknologi menjadi lebih murah dan lebih efisien.
"Dalam kondisi seperti itu, total konsumsi sumber daya justru dapat terus meningkat meskipun teknologi semakin hemat energi," tulis laporan tersebut.

8 hours ago
5

















































