REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Penumpukan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah memicu kekhawatiran serangan ke Iran. Para analis menilai, upaya negara-negara di regional mencegah serangan itu utamanya karena tak ada yang bakal menahan laju hegemoni Israel jika rezim di Iran tumbang.
Dalam beberapa hari belakangan, serangan Amerika terhadap Iran tampaknya semakin tak terelakkan. Penumpukan kekuatan militer AS di wilayah itu dan di pangkalan-pangkalan di Eropa adalah yang paling besar sepanjang dekade-dekade belakangan.
Di tengah opsi serangan yang kian menguat, sejak bulan Januari, Arab Saudi, Qatar, dan Oman, bersama Turki dan Mesir, telah terlibat dalam diplomasi yang intens untuk menarik Washington dan Teheran keluar dari jurang konflik.
Menurut analis Eldar Mamedov di Responsible Statecraft, hal ini bukan karena mereka menaruh simpati pada Teheran, namun karena mereka menyadari bahwa mereka akan berada di garis depan dalam pembalasan Iran, dan apa yang akan terjadi setelah rezim tersebut tumbang.
“Mereka mungkin ingin melihat kepemimpinan Iran melemah, namun mereka lebih khawatir terhadap skenario kekacauan dan ketidakpastian serta kemungkinan unsur-unsur yang lebih radikal berkuasa di sana,” Anna Jacobs Khalaf, seorang analis Teluk dan peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute, mengatakan kepada Aljazirah bulan lalu.
Sebagaimana dicatat oleh analis regional Galip Dalay, selain destabilisasi ekonomi dan keamanan yang mungkin terjadi, terdapat fakta bahwa seiring meningkatnya hegemon di kawasan, Israel mendapat banyak manfaat dari keruntuhan rezim tersebut. “Kekuatan dan ambisi Iran di kawasan ini berkurang, dan prospek tatanan yang berpusat pada Iran telah surut,” tulisnya untuk Chatham House minggu ini.
“Bagi para pemimpin Timur Tengah, ancamannya telah berubah: risiko terbesar kini adalah Israel yang ekspansionis dan agresif, serta kekacauan yang mungkin terjadi di negara Iran.”
Bader al-Saif, asisten profesor sejarah di Universitas Kuwait, mengatakan hal serupa kepada New York Times. “Membom Iran bertentangan dengan perhitungan dan kepentingan negara-negara Teluk Arab. Netralisasi rezim saat ini, baik melalui perubahan rezim atau konfigurasi ulang kepemimpinan internal, berpotensi menghasilkan hegemoni Israel yang tak tertandingi, yang tidak akan menguntungkan negara-negara Teluk.”
Sepanjang dua tahun lebih genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, negara-negara sekitar kebanyakan memang terkesan berpangku tangan. Hanya melayangkan kecaman-kecaman di forum internasional serta memasok bantuan kemanusiaan yang kerap dihambat oleh Israel.
Sementara sekutu-sekutu nonnegara Iran melakukan aksi nyata mencoba menghentikan genosida. Hanya sehari setelah Israel memulai agresi ke Gaza pada 7 Oktober 2023, kelompok Hizbullah di Lebanon selatan langsung meluncurkan roket-roket ke utara Israel. Serangan itu membuka front dengan Israel sampai akhirnya gencatan senjata dicapai, bersamaan dengan tekanan AS, pada tahun lalu.
Sedangkan kelompok Houthi, Ansharullah, di Yaman melakukan blokade terhadap kapal-kapal menuju Israel yang melintas di Laut Merah. Penutupan jalur pelayaran penting ini memicu intervensi AS dan sekutunya yang melakukan patroli dan serangan berulang ke Yaman. Kerugian besar AS kala itu memicu kesepakatan gencatan senjata yang juga dicapai tahun lalu.
Iran juga terlibat saling serang dengan Israel sepanjang Juni tahun lalu. Misil-misil Iran, ditingkahi kegembiraan di Gaza dan Tepi Barat, berhasil menimbulkan kerusakan signifikan di Tel Aviv. AS juga akhirnya turun tangan dengan membombardir Iran yang kemudian dibalas serangan Iran ke pangkalan militer AS di Qatar. Serangan ke Qatar itu memicu pengumuman gencatan senjata oleh AS.

1 hour ago
2














































