REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Badan Anggaran DPR RI meminta pemerintah hendaknya segera mengubah kebijakan subsidi energi.
Pernyataan ini disampaikan Said merespons ancaman krisis energi di tengah konflik yang melanda Timur Tengah.
“Subsidi LPG sebaiknya di arahkan kepada 40 persen penduduk yang berpendapatan rendah, atau desil 6 kebawah,” kata Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dia menjelaskan, umumnya mereka berprofesi usaha mikro, nelayan kecil, dan buruh tani atau petani kecil. Program untuk meng-cover 40 persen rumah tangga yang berpendapatan rendah ini teknisnya ada beberapa opsi. Pertama, data harus akurat. Kedua, penerima manfaat dapat menggunakan biometrik.
Said menyebut pemerintah India telah menjalankan Sistem Asdhaar yang berisi nomor identitas biometrik yang langsung terhubung dengan rekening perbankan penerima subsidi.
Keunggulan sistem ini, kata dia, sulit dimanipulasi, sebab subsidi tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, tetapi penyaluran bantuan subsidi LPG yang dilewatkan rekening penerima, tetapi hanya di bisa digunakan untuk transaksi membeli LPG melalui biometrik.
Dia mengakui memang di awal program tentu butuh effort, tetapi keberhasilan pendataan ini akan memudahkan pemerintah dikemudian hari, lebih jauh, pemerintah akan mendapatkan bank data tentang traffic subsidi LPG yang terdigitalisasi.
“Di India dengan penduduk lebih banyak dari Indonesia program ini bisa berjalan, harusnya di Indonesia juga bisa dijalankan,” ujar dia.
Dia mengatakan, konsekuensi dari kebijakan subsidi LPG yang tertutup (targeted), maka penjualan LPG 3 Kg di pasaran dapat disesuaikan dengan harga keekonomian, atau harga pasar, bukan lagi harga subsidi, sehingga beban subsidi akan berkurang.
Sementara itu, kata Said, yntuk subsidi solar dan pertalite, pendataan barcode melalui aplikasi mypertamina harus divalidasi ulang. Pertamina harus melakukan cross data antara penikmat subsidi solar dan pertalite dengan data kepemilikan kendaraan bermotor (STNK) di kepolisian.

3 hours ago
2















































