REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penguatan budaya daerah dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga identitas nasional di tengah arus globalisasi. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menilai kekayaan budaya lokal, termasuk budaya Minangkabau, harus ditempatkan sebagai kekuatan bangsa sekaligus instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri acara silaturahim Minang Diaspora Global Network bertajuk “Mufakat Ranah dan Rantau: Membangun Nagari–Menguatkan Jati Diri” di Universitas YARSI, Sabtu (23/5/2026). Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa atau mega diversity yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan.
“Kebudayaan harus kita lestarikan dan kembangkan di tengah peradaban dunia,” ujar Fadli Zon saat mengutip Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945.
Ia mengatakan budaya Minangkabau memiliki posisi penting dalam khazanah budaya nasional. Tidak hanya dikenal lewat adat dan seni, budaya Minangkabau juga memiliki kekuatan pada sastra, manuskrip kuno, hingga kuliner tradisional seperti rendang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Fadli juga menyinggung temuan piktograf di Gua Lidah Aia, Sumatera Barat, yang menunjukkan jejak peradaban tua di wilayah tersebut sejak puluhan ribu tahun lalu. Menurut dia, kekayaan sejarah dan budaya tersebut perlu terus diangkat sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa.
“Budaya bukanlah beban, tetapi kekuatan. Kebudayaan harus menjadi bagian dari ekonomi budaya sekaligus diplomasi budaya Indonesia,” katanya.
Acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, diplomat, hingga diaspora Minangkabau dari berbagai negara. Sejumlah kegiatan digelar mulai dari dialog budaya, pameran buku sastra dan budaya Minangkabau, pertunjukan seni budaya, peragaan busana adat, hingga pemberian penghargaan kepada tokoh literasi dan kemanusiaan.
Presiden Minang Diaspora Global Network, Fasli Jalal, mengatakan forum tersebut bertujuan memperkuat hubungan ranah dan rantau serta menegaskan pentingnya nagari sebagai fondasi identitas masyarakat Minangkabau.
“Kita boleh merantau ke mana saja, tetapi jati diri sebagai orang Minang harus tetap dipelihara,” ujar Fasli Jalal.
Ia menambahkan jaringan diaspora Minangkabau kini telah berkembang di 22 negara dan diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan untuk memperkuat pembangunan sosial, budaya, dan pendidikan berbasis nagari.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga menyerahkan Anugerah Mahakarya Literasi Budaya Minangkabau kepada Rais Yatim dan Mas'oed Abidin atas kontribusi mereka dalam pengembangan literasi budaya dan peradaban Minangkabau.
Selain itu, Minang Diaspora Global Network memberikan Anugerah Pengabdian Kemanusiaan Minangkabau kepada Jurnalis Uddin, Nurhayati Subakat, dan Yendra Fahmi atas dedikasi mereka kepada masyarakat dan kemanusiaan.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Mufidah Jusuf Kalla, Mahyeldi Ansharullah, Denny Abdi, Taufiq Ismail, serta Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi.

4 hours ago
2

















































