CANTIKA.COM, Jakarta - Menjalankan brand lokal baik fashion dan aksesori bukan lagi sekadar perkara menciptakan produk yang menarik. Di tengah perubahan perilaku konsumen, derasnya produk impor, persaingan harga, hingga pergeseran strategi pemasaran di media sosial, pelaku usaha lokal dituntut untuk terus beradaptasi.
Situasi tersebut juga dirasakan sejumlah brand lokal yang akan berpartisipasi dalam Irres Local, bagian dari Irresistible Bazaar. Bagi mereka, bazar tidak lagi sekadar tempat berjualan dan menghabiskan stok lama. Kehadiran ruang offline justru menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk baru, membangun kedekatan dengan konsumen, sekaligus memperkuat posisi brand lokal di tengah pasar yang semakin kompetitif.
Salah satu tantangan yang dirasakan pelaku usaha lokal adalah kehadiran produk dari luar negeri dengan harga kompetitif. Founder Samadengan The Labels, Fenny Fahrezi mengatakan produk impor menjadi salah satu tekanan yang harus dihadapi brand lokal. Selain harga, produk luar juga semakin kompetitif dari sisi kualitas maupun kreativitas.
Karena itu, menurutnya, brand lokal tidak bisa berhenti berinovasi. “Dengan adanya bazar ini, kita memicu lokal brand untuk harus lebih kompetitif. Kita harus pintar dan cerdas bagaimana menghadapi ekonomi ini,” ujarnya.
Tantangan lainnya datang dari perubahan cara konsumen menemukan dan membeli produk. Seperti yang dikatakan Founder Haidee & Orlin Meity Savitri bahwa strategi pemasaran yang berhasil beberapa tahun lalu belum tentu relevan saat ini.
Jika sebelumnya foto produk di Instagram sudah cukup untuk menarik konsumen, kini brand perlu memproduksi video, melakukan live shopping, memahami tren TikTok, hingga membangun komunitas.
“Awalnya mungkin di Instagram gampang jualan dengan foto saja. Tapi makin ke sini, orang-orang jualan butuh video, butuh live,” katanya. Perubahan tersebut membuat brand lokal harus terus membaca perilaku konsumen sekaligus menyesuaikan strategi komunikasi mereka.
Intimate Media Gathering Irress Local by Irresistible Bazaar, Jumat 21 Agustus 2026 di Jakarta/Foto: Doc. Irresistible Bazaar
Perwakilan Dibba Official, Arif mengatakan Dalam konteks tersebut, dia melihat Irres Local mencoba menawarkan fungsi bazar yang sedikit berbeda. Alih-alih menjadi tempat brand membawa stok lama, sejumlah peserta justru memanfaatkan momentum tersebut untuk meluncurkan produk baru.
"Kami akan menghadirkan koleksi terbatas untuk menjaga eksklusivitas dan strategi yang menciptakan pengalaman “see now, buy now”, ketika konsumen dapat menemukan produk yang belum tentu mereka lihat sebelumnya di kanal online," ucap dia.
“Jadi mungkin kita nanti nggak akan memajang produk lama, tapi justru mendapatkan produk baru sebelum banyak yang pakai."
Tantangan lainnya adalah datang dari banyaknya produk dari luar, negara tertentu seperti yang dikatakan Leny Rafael, desainer WOU Batik. Menurutnya ketika sebagian besar aktivitas jual beli semakin bergeser ke digital, pertemuan langsung justru kembali memiliki nilai tersendiri.
Bazar memberikan kesempatan kepada konsumen untuk melihat bahan, mencoba pakaian, menyentuh produk, berbicara langsung dengan pemilik brand, hingga memahami cerita di balik produk.
Bagi brand, pengalaman tersebut juga membuka peluang mendapatkan respons konsumen secara langsung. Hal ini menjadi penting karena tidak semua karakter produk dapat tersampaikan melalui layar.
Terlebih, bagi brand fashion dan aksesori, pengalaman menyentuh material atau mencoba produk dapat menjadi bagian dari proses konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
Ketika Komunitas Menjadi Kekuatan Brand
Marisa Tumbuan, Founder Irresistible Bazaar dan Owner Ginger Luxthings dan Dambha Official di acara Intimate Media Gathering Irress Local, Jumat 21 Agustus 2026 di Jakarta/Foto: Doc. Irresistible Bazaar
Di tengah persaingan yang semakin ramai, membangun komunitas menjadi salah satu strategi yang dianggap penting. Brand tidak lagi hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan hubungan dengan konsumen.
Marisa Tumbuan, Founder Irresistible Bazaar mencontohkan bagaimana komunitas yang dibangun oleh salah satu brand dapat menciptakan antusiasme konsumen bahkan sebelum toko atau booth dibuka.
Hal tersebut menunjukkan bahwa loyalitas konsumen tidak selalu dibangun melalui diskon atau harga murah. Ada hubungan, identitas, dan pengalaman yang membuat seseorang merasa memiliki kedekatan dengan sebuah brand.
Bagi brand lokal, kekuatan komunitas juga dapat menjadi cara untuk bertahan ketika persaingan harga dengan produk impor semakin sulit dihindari.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)