Data Besar, Nasib Berceceran

1 hour ago 4

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di Amerika, data sudah seperti ladang minyak baru. Bedanya, kalau minyak harus dibor ke perut bumi, data tinggal dibor ke kebiasaan manusia.

Orang batuk dicatat. Orang marah dianalisis. Orang belanja diamati. Orang insomnia dipetakan. Bahkan orang yang tiap malam stalking mantan pun, diam-diam sedang menyumbang miliaran dolar ke industri kecerdasan buatan.

Sementara di negeri kita, data masih diperlakukan seperti sandal jepit di depan masjid: berserakan, tercecer, kadang hilang sebelah. Elon Musk, manusia yang kalau ngomong kadang seperti nabi teknologi, kadang seperti admin grup WA yang baru putus cinta.

Tiga bulan lalu ia masih menyebut Anthropic sebagai perusahaan “jahat”, “misanthropic”, bahkan pembenci peradaban Barat.

Tapi dunia AI memang dunia yang lebih cepat berubah daripada janji kampanye. Minggu ini, Musk justru menyewakan superkomputer raksasanya kepada Anthropic dengan nilai bisnis sekitar tiga sampai empat miliar dolar per tahun.

Luar biasa. Kemarin musuhan. Hari ini mengontrakkan server, infrastruktur data akbar. Beginilah kapitalisme digital bekerja. Tak ada musuh abadi. Yang abadi hanyalah tagihan listrik data center.

Yang menarik bukan sekadar Musk berubah pikiran. Yang menarik adalah arah perubahan itu. Dulu orang berebut membuat model AI paling pintar. Sekarang orang mulai sadar: yang paling berkuasa bukan cuma pembuat AI, melainkan pemilik infrastruktur data.

Siapa menguasai pusat data, dia menguasai masa depan kecerdasan buatan. Maka Musk perlahan bergeser. Dari pemain AI menjadi tuan tanah AI. Dari pendekar gelanggang menjadi pemilik stadion. Dari penjual mie menjadi pemilik ruko dan parkiran sekaligus.

Dan itu lebih mengerikan. Karena AI modern bukan hidup dari udara dan doa orang saleh. Ia hidup dari tiga hal: data, listrik, dan GPU. Semuanya mahal. Semuanya rakus energi. Semuanya membutuhkan skala yang hampir tidak masuk akal.

Bayangkan satu pusat data berisi ratusan ribu GPU Nvidia bekerja siang malam seperti ribuan santri sedang menghafal kitab tanpa tidur. Panasnya luar biasa. Konsumsi listriknya bisa menyaingi kota kecil. Dan semua itu dibangun hanya untuk melatih mesin agar bisa menjawab pertanyaan seperti: “Apa tanda isteri masih sayang?”

Manusia memang spesies yang aneh. Tetapi di situlah nilai ekonomi terbesar abad ini lahir. Data bukan lagi sekadar arsip. Data telah menjadi bahan bakar geopolitik, ekonomi, militer, budaya, bahkan ideologi.

Amerika paham. China paham. Eropa mulai sadar. Kita? Kita masih sibuk berdebat soalnya haramnya fotokopi KTP.

Padahal Indonesia adalah surga data yang belum dipanen serius. Penduduk ratusan juta. Bahasa beragam. Tradisi kaya. Kebiasaan unik. Percakapan digital melimpah. Ceramah agama ribuan jam tiap hari. Manuskrip kuno bertumpuk. Budaya lokal berlapis-lapis.

Tapi semuanya tercerai-berai seperti gudang perpustakaan yang habis diterjang banjir.

Data kementerian tidak nyambung dengan data lembaga lain. Arsip budaya masih banyak jadi PDF mati. Manuskrip rusak dimakan rayap. Rekaman bahasa daerah hilang pelan-pelan bersama wafatnya generasi tua.

Bahkan kadang negara lebih cepat mendata pelanggaran warganya daripada mendata pengetahuan bangsanya sendiri.

Ironis sekali. Kita ini negeri besar yang hidup di atas gunung emas digital, tetapi sibuk menjual cangkul.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |