aura Fauziyyah
Sastra | 2026-07-25 01:17:07
Karya prosa dari para penulis asal Jawa Timur menyajikan gambaran mengenai kondisi sosial, peristiwa sejarah lokal, serta perubahan ruang perkotaan dan pedesaan. Berdasarkan pendekatan teori resepsi sastra Hans Robert Jauss, tulisan-tulisan ini mengajak pembaca untuk menghubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi masa kini. Karya-karya tersebut memperlihatkan wilayah Jawa Timur menjadi latar dari pergeseran budaya, kerusakan lingkungan, peristiwa kekerasan, serta dinamika kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Kondisi Psikologis dan Kehidupan Kota Surabaya dalam Karya Budi Darma
Budi Darma menggambarkan Surabaya sebagai kota padat yang memengaruhi kondisi psikologis para penghuninya. Dalam novel Olenka (1983), diceritakan kehidupan empat tokoh—Wayne Danton, Fanton Drummond, Olenka, dan Mary Carson dengan jalan hidup yang saling berlawanan. Wayne berhasil menjadi penulis mandiri, sementara tiga tokoh lainnya mengalami kegagalan hidup dan kemunduran moral. Perpindahan dan kondisi terasing para tokoh ini mencerminkan fenomena urbanisasi di Surabaya yang memicu krisis pribadi. Karakter Fanton yang bertindak tanpa perhitungan juga memperlihatkan sisi keras dari sifat masyarakat pesisir Jawa Timur.
Sementara itu, dalam novel Ny. Talis (1996), Budi Darma berfokus pada tokoh Madras yang mengalami kesepian dan rasa terasing dari lingkungan sekitar. Ia melampiaskan beban batinnya melalui kegiatan fisik seperti berlari dan bertinju. Lingkungan Surabaya yang padat dan berudara panas semakin memperjelas jarak emosional serta minimnya interaksi bermakna antarwarga.
Sejarah Sosial dan Masalah Lingkungan Kota Malang Menurut Ratna Indraswari Ibrahim
Ratna Indraswari Ibrahim mencatat sejarah Kota Malang melalui dua isu utama, yaitu kehidupan kelompok etnis minoritas dan sengketa lahan perkotaan. Dalam karya tentang Pecinan Kota Malang, diceritakan persahabatan tiga perempuan bernama Anggraeni, Lely, dan tokoh Aku. Cerita ini memotret kehidupan rumah tangga Lely yang menghadapi diskriminasi dan tekanan keluarga. Karya ini merekam kondisi Kota Malang sejak tahun 1950-an hingga era setelah Reformasi 1998, yang mencakup pembauran budaya Tionghoa dan Jawa, pembatasan hak sipil pada masa Orde Baru, serta pola hidup masyarakat Pecinan.
Dalam novel Lemah Tanjung, Ratna mengangkat konflik perebutan lahan hutan kota seluas 28 hektar di Malang akibat proyek pengalihan fungsi lahan oleh pengembang dan pejabat pemerintah. Tokoh Bu In, Pak Rahmat, dan kelompok masyarakat sekitar melakukan aksi protes untuk mempertahankan kawasan hijau tersebut. Hilangnya populasi kunang-kunang di wilayah itu menjadi tanda terjadinya kerusakan lingkungan. Novel ini diakhiri dengan gambaran kekalahan masyarakat atas keputusan pihak pemilik modal.
Perubahan Masyarakat Pedesaan Pantura dalam Karya Mahfud Ikhwan
Mahfud Ikhwan berfokus pada kehidupan masyarakat pedesaan di wilayah Pesisir Utara (Pantura) Jawa Timur, seperti Tuban dan Lamongan. Dalam novel Kambing dan Hujan (2015), diceritakan hubungan asmara antara Miftah yang berlatar belakang Muhammadiyah dan Fauzia dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Centong, Tuban. Novel ini memperlihatkan perbedaan kebiasaan ibadah antara kelompok Islam modernis dan tradisionalis di tingkat desa. Meskipun tempat ibadah mereka berdekatan, perbedaan pandangan tersebut memicu perselisihan akibat prasangka antarwarga.
Melalui novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017), Mahfud menggambarkan kehidupan Mat Dawuk dan Inayatun di Desa Rumbuk Randu. Latar tanah yang tandus menyebabkan masalah ekonomi berkepanjangan, maraknya pekerja migran ilegal ke Malaysia, timbulnya kejahatan, penggunaan jimat, hingga tindakan hakim sendiri oleh warga. Selanjutnya, novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) menceritakan seorang anak bernama Ulid di Desa Lerok yang menolak bekerja ke luar negeri di saat warga lainnya memilih menjadi buruh migran. Cerita ini juga merekam masuknya barang-barang impor dan siaran luar negeri yang mulai mengubah pola hidup masyarakat desa.
Realitas Tradisi dan Kehidupan Sosial Madura dalam Prosa Royyan Julian
Royyan Julian menulis tentang kondisi alam, budaya, dan kondisi sosial masyarakat Madura. Dalam novel Tanjung Kemarau, ia menggambarkan daerah pesisir Madura yang mengalami musim kering panjang serta menghadapi perubahan akibat masuknya industri modern yang mengancam identitas lokal. Pada cerpen Pendosa yang Salah, Royyan mengkritik sikap masyarakat tradisional yang memberikan hukuman sosial secara sepihak kepada warga yang dianggap melanggar aturan adat atau agama.
Kumpulan cerpen Madura Niskala mengulas kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib sebagai upaya menjaga keharmonisan alam dan tradisi lokal. Cerpen Tandak mengangkat kehidupan para penari perempuan yang mengalami tekanan mental dan stigma negatif dari masyarakat di tengah usaha mereka mempertahankan kesenian tradisional. Sementara itu, cerpen Rumah Jaddah membahas perlakuan buruk masyarakat terhadap anak yang lahir di luar pernikahan resmi, hukuman sosial tersebut terus ditanggung oleh keturunan keluarga tersebut.
Dampak Peristiwa Historical 1965 dan Perubahan Lingkungan dalam Karya Sasti Gotama
Sasti Gotama memanfaatkan latar belakang keilmuan medis dan perhatiannya pada isu gender untuk menyusun ceritanya. Dalam novel Korpus Uterus, ia mengambil latar Kota Surabaya setelah peristiwa politik tahun 1965. Novel ini menceritakan tokoh Kalimah, istri seorang seniman organisasi Lekra yang mengalami penganiayaan dan kekerasan fisik dari petugas militer. Anak yang dilahirkannya dari peristiwa tersebut, Panuluh, tumbuh dewasa dan bekerja sebagai penyedia layanan aborsi. Karya ini memperlihatkan dampak kekerasan terhadap perempuan yang sering tidak masuk dalam catatan sejarah resmi.
Dalam cerpen Sima (2025), Sasti mengambil latar Kota Kediri pada tahun 1895 saat pembukaan lahan perkebunan tebu oleh pemerintah kolonial Belanda. Cerita ini membandingkan kehidupan Roemina, seorang perempuan yang menjadi simpanan pemilik lahan, dengan seekor harimau Jawa yang ditangkap untuk dibunuh dalam acara tradisi rampogan sima di Alun-alun Kediri. Cerpen ini menyampaikan kritik terhadap tindakan penguasa yang merusak lingkungan dan memicu kepunahan hewan liar.
Struktur Kelas dan Pemikiran Filsafat di Kediri dalam Karya S. Jai
S. Jai menggunakan wilayah Kediri sebagai latar untuk membahas perbedaan kelas sosial dan gagasan filsafat. Dalam novel Kumara Hikayat Sang Kekasih (2013), ia menggambarkan perbedaan kehidupan antara warga biasa, buruh pabrik, kelompok bangsawan, dan pedagang kecil, seperti tokoh Suratemi yang tetap berjualan pisang di pasar meski sudah tua dan kehilangan penglihatan. Karya ini mencatat nilai-nilai tata krama dan aturan sosial masyarakat Jawa.
Novel ngRong (2019) menceritakan pembatasan kebebasan individu dalam hubungan pribadi yang dianalisis menggunakan pandangan filsafat eksistensialisme. Sementara itu, novel Tanah Api (2005) berisi diskusi antara tokoh Kipang dan Raushan mengenai teori-teori dari para pemikir dunia. Melalui percakapan tersebut, novel ini mengkritik pola pikir masyarakat modern, pandangan mengenai agama, fenomena pemberitaan media, serta ketidakmampuan kelompok terdidik dalam memahami masalah sosial di sekitarnya.
#
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
4















































