Gairah Astronom Berburu Fenomena Okultasi Asteroid Strenua

3 hours ago 2

KALANGAN astronom profesional dan amatir di Indonesia antusias untuk mengamati peristiwa okultasi asteroid (1201) Strenua pada bintang HIP 35933 (HD 58050), Ahad, 26 April 2026 pukul 19.41 WIB. Dari pengamatan di Bumi, asteroid yang ditaksir berukuran jumbo itu bakal melintasi dan menutup bintang tersebut atau mirip gerhana dalam waktu sekejap.

“Okultasi bintang yang terang oleh benda kecil tata surya seperti asteroid terhitung jarang terjadi,” kata Aditya Abdilah Yusuf, pengamat di Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera Lampung (OAIL) kepada Tempo, Kamis 23 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebenarnya daerah Lampung termasuk di luar jalur taksiran garis lintasan pengamatan okultasi itu. “Karena data kosong atau negatif tetap diperlukan untuk hasil pengamatan okultasi ini,” ujarnya.

Walau begitu, para astronom OAIL tetap semangat karena bisa jadi jalur lintasan asteroid itu melenceng dari perhitungan awal sehingga okultasi bisa teramati di Lampung. Selain itu, menurut Aditya, masih ada kemungkinan pengamat menemukan cincin atau satelit dari asteroid yang sebelumnya tidak diketahui.

Apa pun hasilnya nanti mereka serius menyiapkan rencana pengamatan selama tiga pekan terakhir. Tim mengerahkan tiga teleskop reflektor, sebuah teleskop refraktor, dan satu unit kamera dengan fitur sistem penentuan posisi global (GPS) untuk sinkronisasi waktu. “Masalah waktu sangat krusial dalam pengamatan okultasi,” ujar Aditya. 

OAIL mengerahkan dua tim berjumlah lima orang dengan lokasi pengamatan terpencar di kampus dan Dermaga Bom Kalianda. Tim pengamat OAIL telah berlatih dan menjajal semua alat. Teropong telah dijajal mengarah ke target.

“Bintang bisa diamati dan kami sudah mendapatkan beberapa pengaturan yang sekiranya efektif digunakan ketika pengamatan sebenarnya,” kata Aditya. Selama dua hari menjelang hari pengamatan mereka akan meningkatkan latihan dan menggelar geladi.  

Di Pasuruan, Jawa Timur, Muhammad Hammam Nasiruddin dan kawan-kawannya juga akan mengamati okultasi dengan menyiapkan dua unit teleskop robotik dan satu teleskop pintar. “Tentu sebagai pegiat astronomi tidak ingin ketinggalan momen langit apa pun. Okultasi adalah momen langka dan sangat menarik,” kata Ketua Edukator di Planetarium Ranting Sewu itu, Jumat, 24 April 2026.

Hammam telah menguji coba peralatan dan menemukan bintang targetnya yang berlokasi di rasi Gemini. Posisinya tidak jauh dari penampakan Planet Jupiter di langit, yaitu agak ke atas sebelah kiri atau arah barat laut. 

Tim astronom dari Lampung dan Pasuruan itu merupakan bagian dari jaringan pengamatan okultasi asteroid Strenua yang diinisiasi Observatorium Bosscha. Pengamatan bersama itu menggaet 35 institusi, komunitas, dan individu yang tersebar di 45 lokasi.

Kolaborasi pengamatan astronomi berbasis publik itu disebut Obervatorium Bosscha sebagai yang terbesar di Indonesia. “Dibutuhkan banyak titik pengamatan untuk mendapatkan data yang akurat guna menentukan posisi, ukuran, dan bentuk asteroid tersebut,” kata astronom Observatorium Bosscha, Agus Triono Puri Jatmiko.

Tim Bosscha sendiri menyebar di empat lokasi pengamatan, yaitu di observatorium Lembang, Jayagiri, Ciater-Subang, dan Kupang-Nusa Tenggara Timur.

Okultasi merupakan peristiwa tertutupnya suatu benda langit oleh benda langit lain. Pada fenomena kali ini, yang akan diamati dari Bumi adalah asteroid Strenua akan melintas sehingga terlihat menutupi bintang HIP 35933 (HD 58050).

Menurut Agus, jarak bintang sekitar 180 tahun cahaya dari Bumi, sementara rentang asteroid (1201) sekitar 1,75-1,78 kali lipat jarak Bumi ke Matahari. Karena jarak asteroid itu lebih dekat daripada bintang dari Bumi, maka ukuran asteroid akan tampak lebih besar dibanding bintang.

Saat lewat, asteroid akan tampak menutupi sepenuhnya bintang itu sehingga cahayanya hilang dan muncul setelahnya. “Waktu kejadian okultasi itu pada lintasan pusat asteroid hanya 1,52 detik,” katanya, Kamis. 

Asteroid yang pertama kali ditemukan pada 1931 oleh astronom Karl Wilhelm Reinmuth itu sejauh ini ditaksir berukuran puluhan kilometer. Nama Strenua berasal dari bahasa latin streenus yang artinya lincah atau bersemangat.

Asteroid sabuk utama itu diketahui mengorbit Matahari di antara Mars-Jupiter dan merupakan objek yang relatif redup. Karena itu pengamatan melalui metode okultasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan akurasi data mengenai bentuk dan dimensinya. “Observatorium Bosscha membekali pengetahuan bagi pengamat partisipan dengan kolokium dan workshop,” ujar Agus.

Garis lintasan asteroid yang akan diamati dari Bumi itu membentang dari tengah Samudra Atlantik Selatan melewati beberapa daerah di Kongo, Tanzania, Kenya, Samudra Hindia hingga sampai ke wilayah Indonesia. “Arah lintasan asteroidnya dari barat ke timur,” kata Agus.

Karena perkiraan besarnya ukuran asteroid itu hingga puluhan kilometer, jalur lintasan untuk pengamatan terbagi menjadi bagian tengah dan pinggir asteroid. Rentang jarak dari jalur bagian tengah adalah 4 kilometer ke utara dan 3 kilometer ke selatan. 

Lokasi yang dilintasi jalur tengah asteroid di daratan, antara lain mulai dari ujung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Gunung Anak Krakatau, Pantai Carita Banten, Bogor, Purwakarta, Subang, Sumedang, Majalengka, Kuningan, Pemalang, Salatiga, Batu, Banyuwangi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumbawa, selatan Nusa Tenggara Timur, hingga berujung di Australia timur.

Dari fenomena langit yang sederhana itu kalangan astronom bisa mendapat informasi ilmiah. Dari pengamatan okultasi sebelumnya diperoleh misalnya cincin atau pun satelit asteroid, dan pasangan bintang ganda dekat pada obyek yang tertutupi.

Selain itu, studi atmosfer planet dan planet kerdil di tepian tata surya melalui okultasi juga bisa memberikan perspektif dan informasi baru serta menjadi data pelengkap dari berbagai misi aktif wahana nirawak internasional.

Rencananya, menurut Agus, hasil pengamatan bersama itu akan dipublikasikan Observatorium Bosscha ke jurnal ilmiah sebagai salah satu kontribusi astronomi Indonesia. “Karena masih sedikit yang diketahui tentang asteroid ini,” ujarnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |