REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) secara menyeluruh, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok rentan. Hal ini disampaikan dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, di tengah tren peningkatan kasus dengue di Indonesia.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menjelaskan bahwa DBD memiliki perjalanan penyakit yang sulit diprediksi dan dapat memburuk dengan cepat. “Gejala awal seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah bisa berkembang menjadi kondisi serius seperti perdarahan hebat dan syok,” ujarnya, dikutip dari siaran pers, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada usia 5–44 tahun, sementara proporsi kematian terbesar, sekitar 41 persen, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun.
Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh daya tahan tubuh anak yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala. Karena itu, pendekatan pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif.
“Mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan. Tenaga kesehatan juga berperan membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan, termasuk imunisasi,” jelasnya.
Sejalan dengan persetujuan terbaru dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai indikasi medis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dalam dua dekade terakhir, rata-rata kasus DBD meningkat hampir tiga kali lipat. Siklus puncak kasus pun kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi tiga tahun atau kurang, serta tidak lagi bersifat musiman.
Selain anak-anak, kelompok usia dewasa juga tidak luput dari risiko. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, mengatakan dengue dapat berdampak pada produktivitas, terutama pada usia kerja. “Pada pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes atau hipertensi, risiko komplikasi bisa lebih tinggi dan memerlukan perawatan intensif,” ujarnya.
Para pakar menekankan bahwa pencegahan DBD perlu dilakukan secara konsisten dan terintegrasi, termasuk menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait langkah perlindungan yang sesuai.
Sementara itu, kolaborasi antara pihak swasta seperti Takeda dan Halodoc disebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas edukasi dan akses layanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan pencegahan DBD. Momentum Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April pun diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga dari risiko DBD.
PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis dalam upaya bersama mencegah DBD. Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc. Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar DBD dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan, dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. Saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting.
Sedang CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, mengatakan, akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir 2 kali lipat pada kuartal-1 2026 dibandingkan kuartal-4 2025. Hal ini membuktikan masyarakat memiliki kebutuhan untuk mengakses vaksinasi DBD lebih mudah.

1 hour ago
1

















































