IDAI Soroti Dampak Poster Film Aku Harus Mati

5 hours ago 2

KETUA Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menyoroti fenomena promosi film horor bertajuk Aku Harus Mati yang belakangan ini terpampang di ruang publik. Ia memperingatkan bahwa pemilihan diksi dalam media promosi tersebut memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental anak dan remaja.

Piprim memaparkan data dari Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa sekitar 10 persen remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini bukan sekadar statistik belaka jika populasi anak usia 0-18 tahun mencapai 90 juta jiwa, maka ada sekitar 3 hingga 4 juta remaja yang saat ini sedang berjuang dengan kondisi psikologisnya.

Bagi anak-anak dalam spektrum gangguan mental tersebut, paparan visual berupa kalimat "Aku Harus Mati" di jalanan bukan sekadar iklan film. “Kalau kelompok depresi berat itu tiba-tiba melihat banner itu, dan kemudian dia memang sudah ada ide bunuh diri sebelumnya, itu akan menjadi konfirmasi atau afirmasi bagi dirinya untuk melakukan hal tersebut,” ujar Piprim Basarah di Balai Budaja, Jakarta, Senin, 6 Maret 2026. Menurutnya, konten semacam ini bisa menjadi pemicu yang mendorong niat destruktif menjadi tindakan nyata.

Beban Edukasi bagi Orang Tua

Selain dampak psikologis pada kelompok rentan, Piprim juga menyoroti kebingungan yang muncul pada anak usia dini yang baru belajar membaca. Secara kognitif, anak-anak menyerap informasi secara polos tanpa memahami konteks pemasaran atau metafora dalam sebuah judul film.

"Anak-anak bertanya, 'Ma, kemarin katanya aku harus semangat, aku harus berprestasi, kok tiba-tiba di jalan ada tulisan aku harus mati?'," kata Piprim mencontohkan dialog antara anak dan orang tua. Hal ini dinilai menambah beban bagi orang tua untuk menjelaskan konsep kematian dan pesan-pesan kontradiktif yang mereka temukan di ruang publik. Ruang publik seharusnya menjadi ruang aman bagi pertumbuhan karakter mereka.

Seruan untuk Produsen Film

Menutup pernyataannya, IDAI menghimbau para produsen film dan pelaku industri kreatif untuk lebih bijak dalam menentukan strategi pemasaran. Piprim menekankan bahwa mencari keuntungan adalah hal yang sah, namun jangan sampai mengabaikan tanggung jawab pendidikan dan keselamatan masyarakat. “Ayolah kita coba banyak diskusi juga dengan para pakar psikologi, pakar kesehatan anak, dan kesehatan jiwa,” tuturnya.

Piprim menambahkan bahwa dari perspektif etika dan nilai, sebuah usaha yang berisiko membahayakan kondisi mental masyarakat luas berpotensi membawa dampak negatif yang tidak sebanding dengan keuntungan materi yang didapat. IDAI berharap ke depannya, konten kreatif di Indonesia dapat lebih menyelaraskan antara aspek komersial dan perlindungan terhadap kesehatan jiwa generasi bangsa.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |