REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika api muncul di permukiman RT 09/RW 08 Menteng, Jakarta Pusat, warga tidak hanya menunggu mobil pemadam datang. Sejumlah ketua RT langsung membawa alat pemadam api ringan (APAR) dan bersama-sama melakukan penanganan awal.
Ketua RT 09/RW 08 Menteng Oke Atmadja mengatakan kesiapsiagaan tersebut membuat api dapat dikendalikan sebelum merembet lebih jauh ke kawasan permukiman.
“Karena kita sigap, karena kita sigap pada punya APAR nih, RT-RT pada turun semua bawa APAR-nya. Alhamdulillah cepat,” kata Oke kepada Republika, Senin (24/8/2026).
Kemampuan warga menangani api pada menit-menit awal menjadi salah satu fokus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadapi risiko kebakaran, terutama selama musim kemarau. Di kawasan padat penduduk, api dapat dengan cepat merambat sementara akses kendaraan pemadam tidak selalu mudah.
Pemprov DKI memperkuat upaya pencegahan melalui Gerakan Masyarakat Punya APAR atau Gempar. Program tersebut tidak hanya mendorong ketersediaan alat pemadam di lingkungan, tetapi juga pelatihan dan pembentukan relawan agar warga mampu melakukan penanganan awal.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengingatkan warga meningkatkan kewaspadaan selama kemarau panjang. Kelalaian sederhana, menurut dia, dapat memicu kebakaran.
“Jangan kemudian misalnya, orang habis merokok membuang puntung sembarangan yang bisa mengakibatkan kebakaran atau korsleting,” kata Pramono di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Pemprov juga mengingatkan warga memeriksa instalasi listrik, tidak melakukan pembakaran sembarangan, serta menyediakan alat pemadam di rumah maupun tempat usaha. BPBD DKI menyebut kondisi panas dan angin kencang pada musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Gempar diperkuat melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2025. Pemprov menargetkan APAR tersedia hingga tingkat RT, terutama di permukiman padat yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta Bayu Meghantara mengatakan pengadaan APAR untuk lingkungan RT dilakukan secara bertahap setiap tahun dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan masing-masing wilayah.
“Iya, kami terus, jadi setiap tahun pasti kami akan berupaya dan sudah teranggarkan juga untuk penambahan APAR yang di level RT,” kata Bayu di Balai Kota Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Bayu, ketersediaan alat harus diikuti kemampuan warga menggunakannya. Karena itu, Gulkarmat juga memperkuat edukasi, simulasi, serta pembinaan relawan pemadam kebakaran di lingkungan.
“Karena buat kami prinsip api yang kecil itu mudah dipadamkan. Kalau yang sudah besar memang kamilah yang bisa memadamkan itu,” ujarnya.
Saat Gempar diluncurkan pada Mei 2025, Pemprov mencatat terdapat 30.679 RT. Dengan kebutuhan ideal dua APAR di setiap RT, Jakarta membutuhkan sekitar 61.358 unit. Saat itu, ketersediaannya baru 7.376 tabung dan terus ditambah secara bertahap.
Alat dan Warga Harus Sama-sama Siap

8 hours ago
7
















































