Kata Pakar ITS Soal Penyebab Kebakaran KM Mutiara Sentosa II

1 hour ago 1

GURU Besar Departemen Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Trika Pitana, menduga api yang memicu kebakaran Kapal Motor (KM) Mutiara Sentosa II di Perairan Madura pada Ahad, 2 Agustus 2026, berasal dari geladak kendaraan atau car deck. kamar mesin (engine room). “Dugaan yang mungkin adalah kendaraan yang membawa bahan yang mudah terbakar,” ucapnya kepada Tempo pada Rabu 5 Agustus 2026.

Menurut Trika, kebakaran yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia itu bisa saja dipicu masalah di ruang mesin. Namun, peluang ini mengecil bila perawatan alias docking tahunan kapal tersebut sudah berjalan rutin.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Geladak kapal, kata dia, semestinya dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran yang memenuhi standard seperti fire hydrant atau sprinkle. Sistem pemadam bekerja otomatis ketika ada kebakaran. Bila memang tidak bekerja, pemilik kapal masih harus memeriksa beberapa hal. “Apakah sistem pemadam bekerja efektif?” ujar Trika.

Akademisi yang membidangi keselamatan operasional sistem perkapalan ini juga mempertanyakan kompetensi anak buah kapal dalam proses pemadaman area yang terbakar. Ada juga pertanyaan soal akses area yang terbakar, soal ada tidaknya kegiatan fire drill atau simulasi evakuasi kebakaran, serta soal penempatan kendaraan dalam armada tersebut.

“Jika ada kendaraan yang membawa muatan berbahaya, harusnya diberikan jarak yang cukup, tergantung jenis muatan yang dibawa,” tutur Trika.

Ada total 238 orang korban yang telah dievakuasi dari kejadian tersebut, termasuk lima orang yang meninggal. Kapal yang menyeberangi rute Surabaya-Makassar ini terbakar di perairan utara Sumenep, Madura, pada pukul 08.00 WIB pagi.

Kebakaran KM Mutiara Sentosa II menambah daftar insiden transportasi laut di Indonesia sepanjang 2026. Tak lama sebelum ini, ada juga KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Untuk menghindari terulangnya insiden di kapal penyeberangan, Trika menyarankan pemerintah menindak tegas kapal yang tidak memiliki sertifikat. Pengawasan terhadap penumpang dan muatan juga harus diperketat, mengingat beberapa kecelakan terjadi karena masalah kelebihan beban, serta kelalaian dalam pencatatan manifes.

“Kelebihan penumpang berisiko karena tidak cukupnya life jacket dan kapasitas sekoci jika terjadi bencana di kapal,” ucap Nika. Kelebihan muatan juga berpengaruh terhadap stabilitas kapal.

Ada juga saran soal peningkatan sistem informasi cuaca di kapal, kemudian soal edukasi budaya keselamatan hingga prosedur evakuasi. Pada KM Mutiara Sentosa II, Trika meneruskan, banyak penumpang yang akhirnya terjun ke laut di tengah kebakaran—menunjukkan buruknya crowd management di armada tersebut.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |