Kurikulum Tersembunyi dan Etika Siswa di Era Digital

3 hours ago 3

Image Anissatul Hassanah

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-30 20:18:11

Sumber: diambil dari Nasirun Khan (https://www.pexels.com/photo/group-of-student-in-classroom-26593312/)

Di lingkungan sekolah, siswa tidak hanya belajar materi yang tertulis di dalam buku teks. Ada hal lain bernama hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yaitu nilai, norma, dan etika perilaku yang diserap siswa melalui kebiasaan sehari-hari. Salah satu nilai paling penting dalam kebudayaan kita adalah sopan santun. Namun, di tengah masifnya penggunaan gawai dan media sosial saat ini, budaya sopan santun di kalangan siswa dirasa semakin mengikis. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam cara sekolah menanamkan karakter secara tidak tertulis. Lantas, mengapa peran sekolah dalam membentuk etika siswa menjadi kurang optimal di tengah arus digitalisasi?

Penyebab pertama adalah pergeseran pola interaksi akibat media sosial yang dibawa siswa ke ruang kelas. Di dunia digital, komunikasi cenderung berlangsung instan, bebas, dan sering kali mengabaikan hierarki sosial. Ketika kebiasaan digital ini terbawa ke sekolah, kurikulum tersembunyi yang berupa pembiasaan tata krama sering kali kalah kuat. Hubungan antara siswa dengan guru perlahan berubah menjadi terlalu kasual dan rentan kehilangan rasa hormat.

Kondisi ini diperkuat oleh laporan Digital Civility Index yang dirilis oleh Microsoft pada tahun 2020 lalu. Riset global tersebut menempatkan netizen Indonesia di peringkat bawah, tepatnya posisi ke-29 dari 32 negara dalam hal kesopanan di dunia maya. Rendahnya indeks keberadaban digital ini diukur dari maraknya perilaku negatif saat berselancar di media sosial seperti penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, pelecehan verbal hingga tindakan perundungan siber (cyberbullying). Kebiasaan berkomunikasi di ruang digital yang minim etika inilah yang kemudian mereembes masuk dan memengaruhi perilaku siswa di dunia nyata.

Krisis etika tersebut akhirnya tercermin nyata pada salah satu kasus yang sempat ramai pada pertengahan bulan April tahun 2026 lalu di SMAN 1 Purwakarta, di mana sejumlah siswa melakukan tindakan tidak pantas dengan mengejek dan menunjukkan gestur menghina kepada guru di dalam kelas. Menanggapi insiden tersebut, mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyatakan keprihatinannya dan menekankan pentingnya pembinaan karakter yang berlandaskan kemanfaatan. Pihak sekolah kemudian menjatuhkan sanksi skorsing serta tugas sosial seperti membersihkan lingkungan sekolah selama beberapa bulan. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa hukuman di sekolah harus dikembalikan fungsinya sebagai instrumen bimbingan moral bukan sekedar sanksi formalitas.

Penyebab kedua berkaitan dengan fokus sekolah yang terlalu sibuk pada aspek akademis dan laporan administratif. Desain kurikulum formal saat ini menuntut guru untuk menyelesaikan banyak target materi dan pengisian dokumen digital. Akibatnya, waktu guru untuk mengamati, menegur, dan membimbing perilaku harian siswa di luar jam pelajaran menjadi sangat terbatas.

Kurikulum tersembunyi hanya bisa berjalan efektif jika ada keteladanan dan pengawasan langsung secara konsisten. Ketika sekolah lebih fokus memastikan siswa mendapat nilai bagus di atas kertas, penguatan karakter nyata di lapangan sering kali terabaikan. Kasus kedisiplinan yang berulang membuktikan bahwa sopan santun tidak lagi menjadi budaya sekolah yang dihidupkan bersama melainkan cuma teks pajangan di dinding kelas.

Menghadapi situasi ini, sekolah tidak bisa hanya menyalahkan pengaruh buruk internet atau gawai. Institusi pendidikan harus memperkuat kembali kurikulum tersembunyinya melalui pembiasaan yang tegas dan konsisten. Guru perlu diberikan ruang yang lebih longgar dari beban administrasi agar bisa fokus menjadi mentor karakter bagi siswa.

Sopan santun bukan sekadar materi hafalan untuk ujian, melainkan kebudayaan hidup yang harus dipraktikkan setiap hari. Keberhasilan suatu kurikulum tidak boleh hanya diukur dari kecerdasan kognitif siswa dalam memanfaatkan teknologi tetapi juga dari bagaimana mereka tetap menjaga etika, menghargai sesama, dan merawat nilai kesopanan di mana pun mereka berada.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |