Lebih dari 80 Persen Wilayah Indonesia Berpotensi Lebih Kering pada Agustus-September

4 hours ago 5

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari normal pada puncak musim kemarau 2026. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari normal pada puncak musim kemarau 2026. Kondisi tersebut dipicu menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat.

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, mengatakan indikasi kekeringan sudah terlihat sejak Juni 2026, ketika 51 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. "Untuk awal Juli itu sudah 70 persen. Sebanyak 70 persen wilayah Indonesia mengalami kondisi curah hujan di bawah normal. BMKG memprediksi pada Agustus dan September, lebih dari 80 persen, atau sekitar 80 hingga 90 persen wilayah Indonesia akan mengalami kondisi curah hujan di bawah normal," kata Supari saat diwawancarai Republika, Selasa (21/7/2026).

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September. Sementara itu, dampak kekeringan masih dapat dirasakan hingga Oktober, bahkan November, di sejumlah wilayah. "Sehingga ini perlu diantisipasi oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini yang menjadi indikasi juga mengapa BMKG menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering dari biasanya," kata Supari.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan BMKG sejak awal tahun memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Supari menjelaskan faktor utama penyebabnya adalah El Nino yang kini telah aktif.

"Kami sampaikan bahwa El Nino berpotensi terjadi pada tahun ini dan itu berpotensi menyebabkan kekeringan. Hasil pengamatan terkini hingga Juni menunjukkan indeks pengamatan El Nino bulanan sudah mencapai level 1,5. Ini menjadi tanda bahwa El Nino sudah aktif dan intensitasnya terus menguat. BMKG memprediksi intensitasnya dapat mencapai level kuat dan tentunya berdampak nyata terhadap kekeringan di Indonesia," katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |