Umat muslim mengantre untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Kamis (4/5/2023).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." Demikian terjemahan Alquran surah an-Nahl ayat ke-125.
Perintah ber-amar ma'ruf nahi munkar bagi setiap umat Islam menunjukkan perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dengan mengikuti petunjuk-Nya, manusia insya Allah senantiasa dalam keadaan mulia, tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Namun, tentunya orang tak bisa menggunakan segala cara untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang penyeru (mubaligh).
Salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh setiap dai kebaikan dan pencegah keburukan adalah seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW.
"Tidaklah sepatutnya orang menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar, kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang" (HR Addailami).
Kelemah-lembutan adalah sifat dasar yang dimiliki setiap nabi Allah.
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang Mukmin" (QS at-Taubat:128).
Karenanya, ketika mereka menyeru kaumnya, seruan itu senantiasa bersumber dari rasa kasih sayang yang mendalam, bukan kebencian atau dendam kesumat. Bila seruan mereka ditolak atau bahkan dibalas dengan keburukan, mereka tetap sabar dan berserah diri kepada-Nya.
Hal itu dicontohkan ketika Rasulullah SAW tatkala mengajak kaum Thaif supaya beriman kepada Allah. Seruan beliau itu agar mereka selamat dari penderitaan di dunia maupun akhirat. Justru, mereka membalasnya dengan lemparan batu dan potongan besi.
sumber : Hikmah Republika oleh Fauzan Al-Anshari

1 hour ago
1














































