REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong kolaborasi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta untuk membangun industri bioetanol nasional. Langkah strategis ini ditempuh melalui pemberian kepastian lahan serta investasi berkelanjutan guna mempercepat pengembangan energi berbasis pertanian.
Amran menegaskan, pengembangan industri bioetanol membutuhkan dukungan investasi masif dari berbagai pihak agar pembangunan fasilitas pengolahan energi dapat berjalan secara cepat dan terintegrasi. Ia menyatakan prioritas utama akan diberikan kepada BUMN sebelum melibatkan swasta.
"Itu swasta dan BUMN. BUMN kita upayakan, kita prioritaskan BUMN dulu. Kalau BUMN oke, sudah maksimal, bisa 30 persen, bisa 40 persen, bisa 50 persen. Pokoknya, berapa kemampuan BUMN, sesudah itu, swasta, dan swasta pasti antre," kata Mentan usai Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi di Jakarta, Senin.
Kepastian Lahan Jadi Kunci Tarik Investor
Menurut Amran, kepastian lahan merupakan faktor utama yang dapat menarik minat investor swasta. Jaminan ini memberikan kepastian bagi keberlangsungan pembangunan kawasan industri bioetanol nasional. Ia mencontohkan pengalaman sukses di sektor pangan, di mana investasi dapat berjalan lebih cepat ketika ketersediaan lahan dan dukungan pemerintah telah dipastikan sejak awal.
"Kami pengalaman dulu 10 pabrik gula kami bangun kurang lebih 3 tahun. Kenapa? Lahannya dikawal oleh negara. Jadi, ini spesial," ujar Amran. Pemerintah, lanjutnya, akan mengawal aspek legalitas lahan sehingga proses investasi berjalan sesuai aturan sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha yang berpartisipasi.
Mentan menyebutkan sektor swasta memiliki peluang besar untuk terlibat karena pengembangan bioetanol memiliki prospek ekonomi yang cerah seiring meningkatnya kebutuhan energi terbarukan. Pembangunan industri ini akan diarahkan untuk mengolah komoditas pertanian lokal menjadi energi, sehingga menciptakan nilai tambah bagi sektor hulu dan hilir.
Potensi Hemat Devisa Rp500 Triliun
Amran optimistis kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta mampu mempercepat terbentuknya ekosistem industri bioetanol nasional. Melalui investasi bersama tersebut, pemerintah berharap industri ini dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru berbasis sektor pertanian.
"Kita baru mau mulai konsolidasi hari ini. Ini adalah titik awal hari ini. Ya, doakan, mudah-mudahan bisa mulai tahun ini," ucap Amran.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa pengembangan bioetanol nasional juga berpotensi menghemat devisa hingga sekitar Rp500 triliun setiap tahun. Penghematan devisa tersebut berasal dari substitusi energi terbarukan yang selama ini diproduksi negara lain, sehingga nilai ekonominya dapat berputar di dalam negeri. Untuk itu, pemerintah mendorong pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas strategis pertanian, yakni tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku utama energi.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

4 hours ago
2















































