Menyusuri Lahan Gambut Ketapang, Mahasiswa UI Bergerak Bersama Warga Cegah Karhutla

13 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, KETAPANG—Di lahan gambut, api tidak selalu terlihat dari permukaan. Ketika kebakaran terjadi, bara dapat merambat dan membakar lapisan tanah dari bawah, menjalar perlahan hingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

Karakteristik inilah yang membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan lingkungan yang kompleks di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Persoalan tersebut membawa sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) turun langsung ke tengah masyarakat.

Selama 28 hari, sejak 21 Juli hingga 18 Agustus 2026, mereka hadir di Desa Pematang Gadung dan Desa Sungai Besar melalui program Kuliah Kerja Nyata (K2N).

Tim K2N UI yang berasal dari berbagai program studi dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr Raisye Soleh Haghia.

Raisye yang juga dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI ini, menjelaskan, bagi para mahasiswa, K2N bukan sekadar menjalankan kewajiban pengabdian kepada masyarakat.

Di Ketapang, mereka berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan yang selama ini kerap dibicarakan dari ruang kelas: bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan ekosistem gambut sekaligus menghadapi ancaman karhutla.

Menurut dia, program tersebut diinisiasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI dengan menggandeng Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), organisasi nirlaba yang berfokus pada penyelamatan, rehabilitasi, dan perlindungan satwa liar dilindungi serta pemulihan ekosistem hutan gambut di Ketapang.

Dalam pelaksanaannya, kata dia, mahasiswa tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan The Power of Mama (TPOM), komunitas perempuan binaan YIARI yang beranggotakan para ibu setempat dan bergerak dalam pemberdayaan perempuan serta pelestarian lingkungan.

“Kolaborasi itu mempertemukan pengetahuan akademik mahasiswa dengan pengalaman masyarakat yang telah lama berhadapan langsung dengan lingkungan mereka,” kata Raisye, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Dia mengatakan, para perempuan yang tergabung dalam TPOM selama ini menjadi bagian penting dalam pemantauan kondisi lahan.

Mahasiswa kemudian hadir untuk mendampingi, memperkuat kapasitas, sekaligus membantu menyediakan data dan bahan edukasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |