OJK Dorong Literasi Keuangan di GIIAS 2026, Waspadai FOMO hingga Doom Spending

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG, – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan agar masyarakat dapat mengambil keputusan finansial yang bijak, terutama saat mengajukan kredit untuk memiliki kendaraan impian. Hal ini disampaikan dalam acara edukasi di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS 2026) di ICE BSD, Tangerang, Jumat.

OJK bersama PT Toyota Astra Financial Services (TAF) menghadirkan program bertajuk “Literasi dan Inklusi Keuangan: Cerdas Mengelola Keuangan, Bebas Cemas di Masa Depan”. Kolaborasi ini bertujuan membekali konsumen dengan pemahaman finansial yang sehat sebelum menggunakan layanan pembiayaan.

Direktur TAF, Ezar Kumendong, menyatakan bahwa literasi keuangan merupakan fondasi dari pembiayaan yang sehat. “Nasabah yang memahami produk dan kondisi finansialnya secara utuh akan mengambil keputusan yang lebih baik. Pada akhirnya, itu menciptakan kualitas portofolio yang lebih berkelanjutan bagi industri,” ujarnya.

Pertumbuhan Industri Otomotif dan Pembiayaan

Edukasi ini berlangsung di tengah pertumbuhan positif industri otomotif nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil domestik sepanjang semester I 2026 mencapai 436.564 unit, meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, industri pembiayaan juga mencatat tren positif. Berdasarkan data OJK, piutang pembiayaan pada Juni 2026 mencapai Rp511,26 triliun atau tumbuh 1,88 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan permintaan pembiayaan tetap terjaga di tengah pemulihan pasar kendaraan.

Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi keuangan Indonesia baru mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan telah berada di level 80,51 persen. Selisih kedua angka tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami manfaat maupun risikonya.

Untuk mempersempit kesenjangan tersebut, OJK terus menjalankan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN). Sepanjang 2025, program itu telah menjangkau sekitar 4,56 juta peserta melalui 37.203 kegiatan edukasi dan didukung lebih dari 21 ribu konten digital dengan total 306,7 juta kunjungan. Program ini menjadi bagian dari target peningkatan indeks inklusi keuangan nasional hingga 98 persen pada 2045.

Waspadai Perilaku Konsumtif dan Kejahatan Digital

Dalam kesempatan itu, OJK juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai perilaku konsumtif yang dipicu tren media sosial. Istilah seperti fear of missing out (FOMO), fear of other people's opinion (FOPO), you only live once (YOLO), hingga doom spending dinilai dapat mengganggu kesehatan keuangan apabila tidak diimbangi dengan perencanaan pengeluaran yang baik.

Selain itu, peserta memperoleh edukasi mengenai berbagai bentuk kejahatan keuangan digital. Mulai dari pinjaman online ilegal, investasi ilegal, penipuan berkedok investasi, fake SMS masking, impersonation, hingga social engineering.

OJK mengimbau masyarakat menerapkan prinsip “2L”, yakni memastikan produk keuangan Legal dan Logis sebelum memutuskan menggunakan layanan keuangan atau berinvestasi. “Legal, artinya memastikan perusahaan atau produk keuangan memiliki izin dari otoritas yang berwenang. Logis, artinya tidak mudah percaya pada janji keuntungan yang terlalu besar atau tanpa risiko,” ujar Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Enriche Putera Hutama.

Kolaborasi OJK dan TAF di GIIAS 2026 menjadi salah satu upaya memperluas edukasi keuangan kepada masyarakat, seiring meningkatnya penggunaan layanan pembiayaan kendaraan di Indonesia.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |