Warga saat waktu berbuka puasa di anjungan Halte Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad (2/4/2023). Keberadaan anjungan Halte Bundaran Hotel Indonesia dapat dimanfaatkan warga untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) dengan melihat lanskap gedung-gedung perkantoran. Selain itu, anjungan Halte Bundaran HI juga menyediakan beragam stan makanan yang bisa dijadikan alternatif tempat berbuka puasa bersama.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meningkatnya konflik di Timur Tengah telah memicu volatilitas di berbagai pasar keuangan global, termasuk perubahan dinamika pada tiga aset makro utama, yakni dolar AS, minyak, dan emas. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen investor secara luas, termasuk terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia memandang dolar AS, minyak, dan emas sebagai variabel yang saling terkait erat dan berperan dalam membentuk arah pasar serta kinerja sektoral.
“Penguatan dolar AS dapat menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap rupiah dan arus dana di pasar negara berkembang, yang dapat memengaruhi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga dan berorientasi domestik. Namun, fundamental makro Indonesia yang relatif kuat membantu meredam volatilitas tersebut,” ujar Head of Equity AllianzGI Indonesia, Octavius Prakarsa, dalam keterangan tertulis, Jumat (24/4/2026).
Di sisi lain, Octavius menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak membawa dampak yang beragam. Di satu sisi, sektor energi berpotensi mencatatkan kinerja unggul. Di sisi lain, tekanan inflasi dan beban fiskal akibat subsidi energi tetap menjadi faktor yang harus dicermati secara saksama. Sementara itu, lonjakan harga emas mencerminkan tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sikap risk-off (menghindari risiko) di kalangan investor.
“Dalam situasi seperti ini, kami melihat pasar saham Indonesia tetap relatif tangguh, meskipun akan terjadi perbedaan kinerja yang semakin lebar antar sektor,” tambah Octavius.
Menghadapi dinamika tersebut, AllianzGI Indonesia menekankan pentingnya strategi investasi yang seimbang dan selektif. Investor disarankan berfokus pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, ketahanan laba, serta eksposur terhadap pendorong pertumbuhan domestik.
“Eksposur selektif pada saham energi dan komoditas dapat memberikan manfaat diversifikasi sekaligus berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Saat ini, pemilihan saham aktif dan rotasi sektor menjadi kunci, karena dinamika makro global akan terus memicu perbedaan imbal hasil di pasar saham,” jelas Octavius.

4 hours ago
4














































