REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah pelaku industri karbon Indonesia menginisiasi pembentukan Indonesia-Korea Carbon Corridor untuk memperluas akses proyek karbon nasional ke pasar dan investor Korea Selatan. Inisiatif tersebut dibahas dalam rangkaian pertemuan dengan pemerintah, organisasi kehutanan, dan perusahaan energi Korea Selatan pada 23-24 Juli 2026.
Founder dan CEO PT Visi Carbon Indonesia (VCarboN) Group Heppy Trenggono mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang investasi dan pengembangan proyek karbon berbasis alam melalui skema bisnis antarpelaku usaha.
“Kerja sama Carbon antara Indonesia-Korea dengan pendekatan business to business ini, tentu dengan tetap menjaga integritas, kedaulatan, serta manfaat ekonomi sebesar-besarnya tetap untuk Indonesia,” kata Heppy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia bertemu dengan Executive Director Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) Chongho Park, Vice Executive Director AFoCO Sunpil Jin, CEO SK Multi Utility Nam-Kyu Kim, Project Director Korea Midland Power (KOMIPO) Minho Kim, serta CEO Green Harbor Investment Jason SeokHyun Yun.
Menurut Heppy, pembahasan difokuskan pada peluang investasi proyek karbon berbasis alam di Indonesia, termasuk pengembangan proyek karbon berintegritas tinggi dan implementasi kerja sama bilateral di bawah skema Article 6 Paris Agreement.
Ia menilai kebutuhan kredit karbon di Korea Selatan akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang sehingga menjadi peluang bagi Indonesia.
“Permintaan karbon dari Korea dalam dua tahun ke depan akan mulai meledak. Maka dari itu, peluang ini mesti segera ditangkap oleh Indonesia. Karena suplay karbon berintegritas tinggi akan sangat sulit,” ujar Heppy.
Menurut dia, perhatian perusahaan dan lembaga di Korea Selatan kini tidak lagi sebatas pembelian kredit karbon, tetapi juga mengarah pada kemitraan jangka panjang dalam pengembangan proyek dekarbonisasi.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis Korea Selatan dalam mendukung agenda dekarbonisasi melalui proyek-proyek karbon berbasis alam yang memiliki tata kelola dan integritas yang kuat,” katanya.
Heppy mengatakan, agenda lanjutan dari rangkaian pertemuan tersebut adalah pembahasan dengan Korea Midland Power (KOMIPO) dan SK Group mengenai peluang pengembangan proyek karbon serta kerja sama investasi.
Berdasarkan data VCarboN, Korea Selatan menargetkan mencapai emisi nol bersih pada 2050. Negeri tersebut juga menargetkan penurunan emisi sebesar 53 persen pada 2035, dengan sektor industri ditargetkan memangkas emisi hingga 24,3 persen.
Korea Selatan telah mengoperasikan sistem perdagangan emisi sejak 2015 yang mencakup sekitar 75 persen emisi gas rumah kaca nasional. Pada periode perdagangan emisi keempat, pemerintah Korea Selatan menetapkan batas emisi sekitar 2,54 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂e) untuk lima tahun.
Indonesia dan Korea Selatan sebelumnya juga telah menandatangani nota kesepahaman implementasi Article 6 Paris Agreement pada Juni 2024. Kerja sama tersebut menjadi kerangka bagi pengembangan proyek penurunan emisi di Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Korea Selatan.

12 hours ago
5














































