Pertama Kali Teater Indonesia di Venice Biennale 2026

2 hours ago 1

Bumi Purnati Indonesia akan mementaskan dua pertunjukan teater di panggung La Biennale di Venezia 2026 atau Venice Biennale 2026, di Venesia Italia pada 7 hingga 21 Juni 2026. Dua pertunjukan teater yang akan dipentaskan berjudul “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu/The Tale of Boat.”

Dua pentas tersebut akan menjadi bagian di Festival Teater Internasional ke-54 Venice Biennale. Festival internasional  ini digelar untuk tari, musik, teater yang berlangsung sepanjang 7 Juni-24 Oktober 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dua pentas teater Indonesia akan tampil berturut-turut. Pentas "Under the Volcano" digelar di Teatro alle Tese, Arsenale, pada 16-17 Juni 2026. Dilanjutkan pentas "Hikayat Perahu" di lokasi yang sama pada 18-19 Juni 2026.

Direktur Artistik dan Produser Independen Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, menjelaskan pertama kalinya Indonesia berpartisipasi di Festival Teater Internasional di Venice Biennale. Ia senang Bumi Purnati Indonesia dikenali pelaku seni di manca negara.

Restu yang juga Produser pentas I La Galigo ini tak menyangka proposal yang dikirimkan jelang penutupan pendaftaran diterima panitia. Panitia, kata Restu, cukup aktif mencari perwakilan dari Asia yang mempunyai akar budaya Melayu.

“Kami kirim 24 jam sebelum penutupan pendaftaran, dua hari berikutnya kami diberi tahu Indonesia lolos seleksi dan masuk festival,” ujar Restu saat jumpa pers di kawasan Kebayoran Baru, 7 Mei 2026.

 Restu mengajukan tiga usulan pertunjukan, namun panitia memilih “Under the Volcano” dan “Hikayat Perahu”. Setelah itu ia langsung menyiapkan  pertunjukan yang akan ditampilkan dan memanggil  22 seniman. Dalam waktu enam bulan mereka berlatih untuk mementaskan dua karya tersebut.

Festival ini cukup panjang untuk menghadirkan karya-karya teater dari seluruh dunia.  "Venice Biennale untuk seni rupa sudah berlangsung 150 tahun dan digelar setiap dua tahun, sedangkan untuk festival teater ini baru berusia 54 tahunan dan mengkurasi berbagai produksi teater di dunia," kata Restu.

Festival ini akan menghadirkan 200 seniman dari seluruh dunia yang  akan mengisi 55 acara, termasuk 11 acara produksi dan ko-produksi. Di Festival ini akan ada 10 pentas pertama dunia (world premiere), 2 pentas perdana Eropa, 4 pentas perdana Italia.

Restu mengatakan  panitia festival menampilkan pada kekayaan teater yang menekankan pada aksara, budaya, tradisi yang berbeda satu sama lain. Ia juga menjelaskan tak kurang 610 pelamar dari berbagai negara mengajukan proposal pementasan ke festival yang bertema Alter-Native ini.

Partisipasi tim teater Indonesia di ajang Festiva Teater Interasional ini mendapat sambutan dari Michele Cavallaro, Direktur Istituto Italiano di Cultura (IIC) di Jakarta. Menurutnya kehadiran Indonesia cukup penting dalam festival teater Internasional di Venice Biennale. Dia senang akhirnya Indonesia bisa hadir di festival ini.

“Saya merasa warisan Indonesia penting ditampilkan di kancah dunia,” ujarnya. Dia berharap  ke depannya bisa mengembangkan kerja sama dalam projek lainnya.

Restu juga mengatakan ia juga meminta bantuan pemerintah Italia mendatangkan ahli tata suara yang akan berkreasi bersama grup seniman Aceh. "Saya minta bantuan Pemerintah Italia membantu grup-grup kesenian di Aceh yang terdampak Banjir, mau membersamai mereka,"ujar Restu.

Beberapa pementasan yang akan tampil antara lain Cries karya Christos Stergioglou dan Alexandros Drakos Ktistakis (Yunani), trilogi Romance familiar (Ragada, Good Bye Lindita, Taverna Miresia) karya Mario Banushi (Yunani-Albania), Mugen Noh Othello karya Satoshi Myiagi (Jepang), Mischief Dance: A Journey Through Rhythm and Spirit karya Sharmila Biswas dan Odissi Dance (India), Star Returning: Venice karya Lemi Ponifasio (Selandia Baru), Hewa Rwanda: Letter to the Absent karya Dorcy Rugamba (Rwanda), duo Angelique Kidjo-Thierry Vaton (Benin-Prancis), hingga perdana dunia I fantasmi di Basile karya Emma Dante (Italia).

 Cuplikan produksi Under The Volcano produksi Bumi Purnati Indonesia. Dok. Bumi Purnati Indonesia

 Dua Cerita 

“Under the Volcano” adalah pentas teater tari yang disutradarai Yusril Katil. Karya ini mengambil inspirasi  dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh, yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

 Karya ini bermula dari kolaborasi Komunitas Seni Hitam- Putih dan Bumi Purnati Indonesia saat mengikuti di The 6th Theatre Olympics di Beijing, Cina, pada 2014. Karya ini dipentaskan di Singapura pada 2016, di Borobudur Writer and Cultural Festival di Magelang, Jawa Tengah, dan di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta pada 2022.

Sementara “Hikayat Perahu” disutradarai Sri Qadariatin. Karya ini merupakan tafsiran atas puisi Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, sebuah karya sastra Melayu Klasik abad ke-16 yang diakui  sebagai memori of the World pada 2025. Rencananya karya ini dipentaskan di Jakarta pada tahun depan.

Karya ini merupakan karya teater tari yang menampilkan perjalanan spiritual mencari kedamaian di dalam diri hubungan manusia dan Tuhan yang dilambangkan dengan metafora perahu dan lautan.

 Pilihan Editor:

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |