Puncak Kemarau Diprediksi Agustus, PJT II Siapkan Pasokan Air untuk Sawah Pantura

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Jasa Tirta II (PJT II) memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga pasokan air irigasi menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Upaya itu dilakukan guna memastikan aktivitas pertanian di wilayah pantai utara (Pantura) Jawa Barat tetap berjalan optimal dan mendukung produksi pangan nasional.

Berdasarkan pemutakhiran prakiraan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus mendatang. Kondisi tersebut mendorong PJT II untuk memperkuat koordinasi dan pengelolaan distribusi air di Daerah Irigasi (D.I.) Jatiluhur yang menjadi salah satu penopang utama produksi pangan nasional.

Sebagai pengelola sumber daya air strategis nasional, PJT II secara rutin melakukan pembahasan bersama Tim Koordinasi Operasi Sumber Daya Air (TKOSDA) yang melibatkan sejumlah unit wilayah dan unit pembangkit listrik tenaga air. Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga di kawasan pertanian yang tersebar di Kabupaten Purwakarta, Karawang, Bekasi, Subang, hingga Indramayu.

Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, mengatakan pengelolaan air yang terencana menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama saat memasuki musim kemarau.

Menurut dia, ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan air. Karena itu, perusahaan terus melakukan berbagai langkah antisipatif dan pengelolaan yang terukur agar kebutuhan air irigasi tetap terpenuhi sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan optimal.

"Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan air. Karena itu, PJT II terus melakukan langkah antisipatif dan pengelolaan yang terukur agar kebutuhan air irigasi tetap terpenuhi sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan secara optimal," ujar Imam dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).

Data PJT II menunjukkan realisasi penyediaan air irigasi di D.I. Jatiluhur pada Mei 2026 mencapai 231,33 meter kubik per detik. Angka itu melampaui rencana penyediaan atau alokasi yang ditetapkan sebesar 185,52 meter kubik per detik.

Dari total realisasi tersebut, PJT II menyuplai 177,35 meter kubik per detik untuk melayani Saluran Tarum Barat, Saluran Tarum Utara, Saluran Tarum Timur, serta Sungai Cikao.

Pasokan air tersebut turut mendukung pelaksanaan Musim Tanam II 2026. Hingga Mei 2026, progres aktivitas tanam tercatat hampir mencapai 30 persen dari target seluas 211.541,90 hektare. Sementara itu, di wilayah D.I. Selatan Jatiluhur, capaian aktivitas tanam telah mencapai 93 persen dari target seluas 28.099 hektare.

Imam menilai pembahasan rutin bersama TKOSDA menjadi instrumen penting untuk memastikan operasi sumber daya air berjalan adaptif terhadap dinamika iklim dan kebutuhan di lapangan. Melalui koordinasi tersebut, PJT II dapat mengantisipasi potensi kemarau panjang sekaligus memastikan petani memperoleh pasokan air yang cukup untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.

Ia menambahkan, D.I. Jatiluhur memiliki peran strategis dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Karena itu, perusahaan berkomitmen menjaga keandalan pasokan air agar dapat terus menopang produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat.

"D.I. Jatiluhur bukan sekadar sistem irigasi, tetapi merupakan salah satu tulang punggung ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, kami berkomitmen menjaga keandalan pasokan air agar dapat terus mendukung pencapaian swasembada pangan dan kesejahteraan masyarakat," kata Imam.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |