Saat Kebenaran Kalah Cepat: Dari Hiruk-Pikuk Media Sosial Menuju Ketahanan Kognitif Bangsa

2 hours ago 2

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pada masa lalu, manusia harus menunggu pagi untuk mengetahui apa yang terjadi pada malam sebelumnya.

Berita datang melalui halaman surat kabar, siaran radio, atau layar televisi yang memiliki jadwal dan ruang terbatas.

Ada redaksi yang memilih fakta, wartawan yang mendatangi tempat kejadian, serta editor yang memeriksa apakah sebuah informasi layak disampaikan kepada publik.

Dunia digital menghapus hampir seluruh jeda itu.

Hari ini, suatu peristiwa belum selesai berlangsung ketika potongannya telah berpindah dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya. Gambar beredar sebelum konteksnya diketahui.

Kesimpulan terbentuk sebelum fakta dikumpulkan. Kemarahan muncul sebelum orang sempat bertanya. Dalam hitungan menit, sebuah rekaman dapat menyeberangi kota, negara, bahkan benua—sering kali lebih cepat daripada kemampuan siapa pun untuk memastikan kapan, di mana, dan dalam keadaan apa rekaman itu dibuat.

Kecepatan pada mulanya dipandang sebagai anugerah. Media sosial membuka ruang partisipasi yang sebelumnya tidak tersedia. Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lembaga media untuk menyampaikan pengalaman dan kesaksiannya.

Warga biasa dapat merekam ketidakadilan, mengawasi kekuasaan, mempertemukan orang-orang yang terpisah oleh jarak, dan mengangkat masalah yang mungkin luput dari perhatian institusi formal.

Namun, setiap pintu yang terbuka juga dapat dimasuki oleh mereka yang tidak datang membawa niat baik.

Kemudahan menyampaikan informasi kemudian berubah menjadi kemudahan memindahkan kebohongan. Kebebasan berbicara berhadapan dengan kebebasan memanipulasi. Teknologi yang dapat memperluas pengetahuan sekaligus menyediakan mesin yang sangat efektif untuk menyebarkan prasangka, kecurigaan, fitnah, dan kemarahan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |