REPUBLIKA.CO.ID, oleh Azis Subekti, Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra
Setiap kali ketegangan meningkat di sekitar Selat Hormuz, ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul dalam diskusi geopolitik energi: apa yang sebenarnya akan terjadi jika selat itu benar-benar terganggu?
Pertanyaan ini terdengar seperti spekulasi militer. Namun bagi dunia energi global, ia adalah simulasi yang sudah lama dipelajari dengan sangat serius.
Selat Hormuz adalah salah satu titik paling sensitif dalam sistem energi dunia. Hampir dua puluh persen perdagangan minyak global melewati jalur ini setiap hari. Tanker-tanker raksasa membawa minyak dari pelabuhan di Teluk Persia menuju Asia, Eropa, dan berbagai pusat industri dunia.
Itulah sebabnya jalur air yang lebarnya tidak sampai seratus kilometer ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada ukurannya. Jika aliran energi dari kawasan ini terganggu, dampaknya tidak akan berhenti di Timur Tengah. Ia akan terasa di seluruh dunia.
Namun menariknya, gangguan terhadap Hormuz tidak harus berupa penutupan total untuk menciptakan efek global. Dalam ekonomi modern yang sangat sensitif terhadap risiko pasokan energi, ketidakpastian saja sudah cukup untuk memicu guncangan besar.
Jika sebuah kapal tanker diserang, atau sebuah jalur pelayaran dinyatakan berbahaya oleh perusahaan asuransi maritim, biaya pengiriman energi dapat melonjak dalam waktu singkat. Banyak perusahaan pelayaran mungkin memilih menunda perjalanan. Pasar energi akan segera merespons dengan kenaikan harga.
Di titik itu, krisis energi sering kali dimulai bukan oleh kelangkaan minyak yang nyata, melainkan oleh ketakutan terhadap kemungkinan kelangkaan.
Sejarah memberi kita beberapa gambaran tentang bagaimana mekanisme ini bekerja. Pada krisis minyak tahun 1973, gangguan pasokan yang relatif terbatas mampu mengguncang ekonomi global selama bertahun-tahun. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan banyak negara industri mengalami perlambatan ekonomi yang tajam.
Jika skenario serupa terjadi di Selat Hormuz—yang volumenya jauh lebih besar daripada krisis energi sebelumnya—reaksi pasar hampir pasti akan jauh lebih cepat.
Banyak simulasi energi memperkirakan bahwa jika aliran minyak dari Teluk Persia terganggu secara serius, harga minyak dunia dapat melonjak hingga melampaui 150 bahkan 200 dolar per barel.
Namun harga energi hanyalah lapisan pertama dari dampak yang lebih luas.
Dalam ekonomi modern, minyak bukan sekadar komoditas energi. Ia adalah fondasi dari hampir seluruh sistem produksi dan distribusi global. Ketika harga minyak naik tajam, biaya transportasi meningkat, biaya logistik melonjak, dan harga berbagai barang ikut terdorong naik.
Akibatnya, krisis energi hampir selalu berubah menjadi krisis inflasi global.
Bank-bank sentral di berbagai negara kemudian menghadapi dilema yang sulit. Jika mereka menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi, pertumbuhan ekonomi dapat melambat. Namun jika mereka tidak bertindak, kenaikan harga energi dapat menyebar ke seluruh sektor ekonomi.
Dalam situasi seperti itu, dunia dapat memasuki fase yang jarang dibicarakan tetapi sangat berbahaya: stagflasi. Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang lemah dan inflasi yang tinggi.
Namun ada satu dimensi lain yang sering terlewat dalam pembicaraan tentang Selat Hormuz. Gangguan jangka panjang terhadap jalur energi ini tidak hanya akan memicu krisis ekonomi. Ia juga dapat mempercepat perubahan dalam peta energi global.
Negara-negara industri mungkin akan berusaha mencari sumber energi alternatif yang lebih stabil. Investasi dalam energi terbarukan dapat meningkat. Jalur perdagangan energi baru dapat dibangun untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu titik strategis. Dengan kata lain, krisis di Hormuz dapat menjadi katalis bagi perubahan struktural dalam sistem energi dunia.
Namun perubahan seperti itu tidak terjadi dalam semalam. Dalam jangka pendek, gangguan terhadap selat ini hampir pasti akan menciptakan tekanan besar bagi banyak negara—terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.
Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan adalah contoh negara yang memiliki ketergantungan energi tinggi terhadap kawasan ini. Stabilitas Selat Hormuz bagi mereka bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga soal keberlanjutan ekonomi. Bahkan negara-negara yang tidak mengimpor minyak secara langsung dari Teluk tetap akan merasakan dampaknya melalui mekanisme harga global.
Dalam dunia yang sangat terhubung seperti sekarang, tidak ada ekonomi yang benar-benar berada di luar jangkauan guncangan energi. Itulah sebabnya banyak negara memandang stabilitas Selat Hormuz sebagai kepentingan internasional yang sangat penting.
Selat ini bukan hanya jalur pelayaran bagi tanker minyak. Ia adalah salah satu simpul yang menghubungkan stabilitas geopolitik dengan stabilitas ekonomi dunia.
Ketika ketegangan meningkat di kawasan ini, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan hanya keamanan regional di Timur Tengah.Yang dipertaruhkan adalah keseimbangan sistem energi global.
Dan dari situlah kita mulai memahami mengapa jalur air yang tampak kecil di peta ini memiliki arti yang begitu besar dalam politik internasional.
Selat Hormuz mungkin sempit. Tetapi dalam dunia modern yang digerakkan oleh energi, ia adalah salah satu tempat di mana denyut ekonomi global paling terasa.

6 hours ago
5
















































