
Oleh: Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI) dan Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tepat 17 Agustus 2026, Republik Indonesia menapaki usia ke-81 tahun. Dalam rentang lebih dari delapan dekade, bangsa ini telah melalui pelbagai gelombang zaman: dari perang revolusi kemerdekaan mempertahankan kedaulatan, dinamika pergantian rezim, hingga pertarungan geopolitik dan disrupsi teknologi abad ke-21.
Bagi umat Islam sebagai entitas mayoritas, perayaan kemerdekaan bukanlah rutinitas seremonial belaka. Kemerdekaan adalah amanah peradaban sekaligus nikmat ilahiah yang menuntut pertanggungjawaban etis dan historis: Sejauh mana umat telah membebaskan bangsanya dari jerat kebodohan, ketimpangan, dan ketakutan?
Meretas Belenggu: Dari Kegelapan Menuju Cahaya
Secara teologis, kemerdekaan (al-hurriyah) berakar pada misi profetik pembebasan martabat manusia. Al-Qur'an menegaskan orientasi peradaban ini dalam Surah Ibrahim [14] ayat 1:
"Alif Lām Rā. (Ini adalah) Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan pada cahaya (terang-benderang) dengan izin Tuhan mereka..."
Kemerdekaan sejati adalah gerakan emansipatoris yang terus-menerus memindahkan manusia dari ruang-ruang kegelapan (adz-dzulumaat)—kebodohan struktural, tirani ekonomi, kemiskinan, dan degradasi moral—menuju cahaya (an-nuur), yakni keadilan sosial, kemuliaan akal budi, dan supremasi hukum.
Menjelang satu abad republik, proklamasi kemerdekaan harus dimaknai kembali bukan sekadar lepasnya bangsa dari kolonialisme bangsa asing, melainkan ikhtiar tiada henti memerdekakan warga bangsa dari belenggu ketertinggalan sains-teknologi dan pembodohan dan kemiskinan massal.
Dua Tolok Ukur Negeri Beradab: Pangan dan Rasa Aman
Al-Qur'an meletakkan fondasi sosiologis yang sangat presisi mengenai keberhasilan suatu bangsa. Dalam Surah Quraisy [106] ayat 3–4, Allah SWT berfirman: "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut."
Ayat ini mempertemukan tiga pilar peradaban yang tak terpisahkan: Sebuah bangsa yang bertauhid dan beradab ditandai oleh dua indikator terukur:
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
3














































