Mendaki gunung/ilustrasi. Salah satu risiko yang tidak boleh dianggap sepele ketika naik gunung adalah hipotermia. Kondisi ini dapat berujung fatal jika pendaki tidak mengenali dan menanganinya sejak dini.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren menjadikan gunung sebagai tempat healing di kalangan anak muda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, sebagian dari mereka kerap melakukan pendakian singkat dengan konsep tektok atau naik dan turun dalam satu hari.
Namun, di balik meningkatnya minat tersebut, terdapat risiko kesehatan yang cukup besar. Salah satu risiko yang tidak boleh dianggap sepele adalah hipotermia. Kondisi ini dapat berujung fatal jika pendaki tidak mengenali dan menanganinya sejak dini.
Dokter spesialis anestesi sekaligus dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Yusda Kris Sari Wijaya, mengatakan hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai organ tubuh tidak dapat bekerja secara optimal sehingga berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
la mengatakan suhu dingin ekstrem bisa mengganggu organ vital. Alasannya, tubuh manusia membutuhkan suhu ideal agar seluruh sistem organ dapat berfungsi dengan baik. Ketika suhu tubuh menurun, organ-organ vital seperti jantung akan mulai mengalami gangguan. Alhasil, kemampuan jantung dalam memompa darah menjadi tidak maksimal.
Pada saat yang sama, tubuh sebenarnya menggunakan cadangan energi untuk menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil. Namun, kondisi di lapangan sering kali memperburuk keadaan ini.
"Tubuh membutuhkan suhu yang optimal agar seluruh organ dapat bekerja maksimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, hingga sistem hormonal ikut terdampak. Pada pendaki yang sudah kelelahan, cadangan glukosa untuk mempertahankan panas tubuh semakin berkurang. Karena itu kemampuan tubuh melawan suhu dingin juga ikut menurun," kata dr Yusda dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (25/6/2026).
Selain mengganggu fungsi jantung, hipotermia juga menghambat distribusi oksigen ke jaringan tubuh. Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen yang kemudian memengaruhi fungsi otak. Kondisi ini membuat kemampuan tubuh untuk merespons suhu dingin semakin melemah.

3 hours ago
6
















































