Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Sabtu (18/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Di Washington, dua krisis yang kini tak lagi dapat dipisahkan dalam perhitungan Presiden Donald Trump saling beririsan.
Dilema tersebut adalah perang dengan Iran yang tidak memiliki jalan keluar yang jelas bagi Gedung Putih tanpa biaya politik dan pemilihan tengah masa jabatan yang semakin dekat di tahun di mana antusiasme sebagian besar Republik tidak sepenuhnya berada di kubu "MAGA" maupun lawan-lawan Trump di dalam partai.
Aljazeera dikutip Kamis (7/5/2026), menguraikan surat kabar dan situs web Amerika menafsirkan persimpangan ini sebagai ujian ganda bagi kepresidenan Trump.
Hal ini karena perang menekan ekonomi dan harga bahan bakar, serta merusak citra presiden yang menjanjikan ketegasan.
Sementara pemilu yang mendekat berpotensi menjadi penilaian publik terhadap pengelolaan perang, ekonomi, dan kekuasaannya secara bersamaan.
Dalam sebuah artikel opini di surat kabar The New York Times, Kristen Soltze Anderson—seorang peneliti opini publik dari Partai Republik—menulis bahwa ancaman elektoral paling mendesak bagi Partai Republik tidak terletak pada basis "MAGA" yang paling setia kepada Trump, juga bukan pada para Republikan penentangnya yang secara praktis telah meninggalkan kubu tersebut, melainkan pada segmen yang lebih luas yang dia sebut "Republikan biasa" .
Mereka—seperti yang digambarkan penulis—adalah konservatif dan jelas-jelas Republik, memiliki ketidaksukaan yang mendalam terhadap Partai Demokrat, namun mereka tidak mengidentifikasi diri mereka terlebih dahulu sebagai pendukung Trump.
Anderson mengatakan bahwa kelompok ini, yang mewakili sekitar setengah dari anggota Partai Republik, secara umum masih mendukung Trump, namun tidak memberikan antusiasme yang dibutuhkan partai dalam pemilihan tengah masa jabatan.

2 hours ago
2















































