Akal Imitasi Belum Bisa Gantikan Peran Guru

3 hours ago 1

MANTAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menilai teknologi akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) belum mampu menggantikan peran guru dalam pendidikan. Guru, kata dia, tetap berfungsi menanamkan etika dan moral kepada siswa.

“AI tidak bisa memberikan moral. Superman punya kekuatan besar. Kalau tidak punya moral, bisa digunakan untuk kejahatan,” ujar Anies saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Integritas Karakter, Kompetensi, dan Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Rabu, 6 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Anies mengatakan peran guru telah berubah seiring perkembangan teknologi. Jika sebelumnya guru menjadi sumber utama ilmu, kini siswa dapat dengan mudah mengakses informasi secara mandiri. “Guru yang mekanistik akan tertinggal,” kata mantan Rektor Universitas Paramadina itu.

Meski demikian, ia menegaskan guru tetap memegang peran penting dalam mengajarkan nilai kebaikan serta membimbing siswa dalam memanfaatkan teknologi secara tepat. Ia meminta para guru aktif mendampingi siswa agar teknologi digunakan untuk tujuan yang benar.

Menurut Anies, pendekatan lama dalam mendidik, seperti memarahi siswa, sudah tidak lagi relevan. Guru perlu mencari teknik baru yang lebih efektif dalam membentuk karakter.

Ia kemudian mencontohkan praktik pendidikan di Amerika Serikat. Di sana, guru memiliki otoritas untuk memeriksa histori pencarian di gawai milik siswa. Ia menceritakan seorang siswa yang kedapatan membuka situs pornografi dan berdalih hanya mengaksesnya selama 10 menit. “Oleh si guru lalu dibilang ‘ya sudah’,” kata Anies.

Keesokan harinya, siswa tersebut menerima kotak makan siang dari kantin. Namun, ia enggan memakannya karena berbau tidak sedap. Guru kemudian menjelaskan bahwa makanan itu telah dicampur sedikit kotoran kucing.

Melalui ilustrasi itu, Anies ingin menunjukkan bahwa pelanggaran sekecil apa pun dapat merusak keseluruhan nilai. “Ingat, hanya karena itu sedikit, rusak itu semua. Sama dengan pikiranmu. Kalau kau izinkan 10 menit, rusak itu semua struktur pikiranmu,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan tersebut mencerminkan metode pendidikan baru. Guru, kata dia, perlu menerapkan dua strategi, yakni isolasi dan imunisasi. Dalam kasus siswa mengakses konten pornografi, sekolah dapat melakukan isolasi dengan memblokir situs tersebut. Namun, cara ini dinilai tidak cukup bertahan lama. Karena itu, diperlukan pendekatan imunisasi melalui pendidikan karakter dengan berbagai metode pengajaran yang lebih adaptif.

Anies menghadiri seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina tersebut bersama sejumlah guru dan siswa dari berbagai sekolah di Jakarta dan Bekasi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |